Me & 1001 Books

1001  Books You Must Read Before You Die
Apaan sih ini? Sok banget bilang-bilang harus baca sebelum mati. Yang paling pentingkan sebenarnya ngumpulin 3 perkara ini dulu sebelum mati, biar setelah mati masih ngalir terus pahalanya: Amal Jariyah, Ilmu Bermanfaat dan anak sholeh mendoakan (Nah, yang terakhir ini, nikah dulu XD)


Oke. Kembali ke 1001 books ini. Jadi, sebenarnya aku nggak tahu kalau ada list-list buku semacam ini. Semasa kuliah sudah kadung galau kenapa tidak ada satu pun novel yang bisa memuaskan batin. Setiap kubaca, aku bosan lalu membuangnya. Membuang dalam artian kukasih ke temen-temenku. Heran. Ada apa dengan aku? Apa aku sudah tidak menyukai dunia fiksi? Sempat aku bertanya-tanya. Tetapi aku masih seorang yang suka menulis novel, merancang kisahku sendiri.  Padahal saat SMP aku banyak menyelesaikan membaca novel. SMA sedikit, karena padatnya kegiatan. Barulah kusadari bahwa minat bacaku sudah berubah. Aku hanya tidak menemukan novel yang  menurutku sendiri adalah bagus. Setidaknya saat kubaca, novel itu tidak merusak kenikmatan sebab di kepalaku penuh teori menulis. Sudah banyak tahun kuhabiskan waktu untuk memelajari teori-teori tersebut. Akibatnya saat membaca, kalau menurut teori dan presepsiku cacatnya di mataku sudah banyak, sulit menyelesaikannya kecuali karena aku bertekad harus menyelesaikannya.


 

                                                                          1001 books koleksiku yang masih sedikit XD

Barangkali aku harus berterima kasih pada Tuhan mempertemukanku dengan dua anak ini. Oke. Kusebut saja namanya. Zian Armie Wahyufie yang sudah banyak memberiku banyak pengetahuan mengenai dunia fiksi, yang kemudian mempertemukanku dengan OM Buku di mana melaui Om ini aku bisa mengoleksi banyak buku langka. Aku tak dapat menganggap mereka biasa saja, sebab mereka berjasa banyak padaku tanpa mereka sendiri sadari.

Dua orang di atas itulah yang meracuniku dengan yang namanya 1001 Books You Must Read before You Die. Ada kesenangan tersendiri saat membaca buku-buku yang masuk dalam list itu. Kadang aku sepakat kalau buku itu harus kubaca, kadang juga tidak. Tetap saja bukan memasukkan buku dalam sebuah list adalah sedbuah penilaian subjektif? Dan aku sendiri tidak tahu parameter mereka dalam menyusun list itu dari apa saja? Sebab aku cukup sedih, mengapa buku babe Khaled Hosseini nggak masuk? Padahal novel itu masuk dalam Times New York Best Seller XD. Tapi, itulah sudaah yang terjadi. 1001 adalah istilah mereka dan mereka membuatnya. Aku sendiri tentunya bisa membuat listku sendiri bukan? Hehehe.

Oke Mol. Berhenti bergurau. Jadi, sebenarnya apa sih 1001 Books You Must Read Before You Die itu?
Yaitu buku yang berisi list 1001 buku sastra yang menurut mereka terbaik dan harus kita baca sebelum kita mati. Disusun oleh beberapa kritikus dunia dan di edit oleh Peter Boxall, Professor Bahasa inggris di Sussex University. Begitulah yang Zian tulis di blognya :D. Dan buku-buku dalam daftar ini akan diperbaharusi 2 tahun sekali. Jadi, kemungkinan besar akan ada yang dibuang dan diganti. Kebanyakan isinya novel, tetapi kumpulan cerpen ada dan non fiksi pun juga.
Tadinya aku tidak berminat mengoleksi. Aku mengoleksi buku yang aku ingin saja. Tetapi kemudian aku berpikir. Tidak ada salahnya mengoleksi dan membaca yang masuk dalam daftar itu. Setidaknya agar kita sedikit bisa meraba, memangnya buku seperti apa saja yang mereka masukkan sampe dikatakan harus dibaca sebelum mati? Saat di cek kebanyakan buku yang masuk adalah buku yang lahir pada abad ke 19, masa-masa yang mungkin sastra adalah dunia perlawanan untuk keadaan yang sangat tidak adil XD.  Selain itu aku pikir aku bisa mencuri teknik-teknik menulis para penulis dalam list itu, mungkin dari segi isi cerita, plot, penggambaran karakter dan narasinya sendiri. Mungkin juga dari segi bagaimana buku tersebut dapat memengaruhi dunia.
 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bararawa: Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

Parodi Selendang Merah

1001 Books You Must Read Before You DIe (List Tahun 2012)