Review Buku - A Beautiful Lie
Jumat lalu aku sempat stress, dan kuputuskan menggugurkan salah satu mata kuliah yang kuulang, yaitu matematika dasar. Malas sekali rasanya mengulang mata kuliah. Dan hari itu aku sedang kekurangan bacaan, hingga kuborong banyak buku di gramedia. Lumayan juga habis dapat rezeki, semoga berkah.
Salah satu buku yang kemudian menarik perhatianku, saat kubaca sinopsis di belakangnya.
A Beautiful Lie
Semua orang berdusta.
Kita semua pernah berdusta. Pada tanggal 1947, aku belajar bahwa setiap orang bredusta, namun tidak semua dusta itu sama.
Bertahun-tahun silam, aku menceritakan sebuah dusta yang makin lama makin berkembang. Saat itu aku begitu yakin bahwa jalan satu-satunya adalah dengan berdusta.
Tetapi sekarang kebenaran perlu disampaikan.
Wah, menarik, pikirku. Jujur saja, setiap kali ke toko buku, aku lebih sering menghindari novel bertemakan cinta. Jika pun aku harus membaca novel tentang cinta, aku hanya mengkonsumsi novel karangan Tere Liye, Asma Nadia atau Helvy Tiana Rosa. Dan kali ini, aku merasa ide dalam novel ini begitu sederhana, namun penuh makna. Lekas saja kubeli, walaupun aku tak mengenal siapa Irfan Master, penulisnya.
Pertama kali membukanya, aku langsung mencari biografi penulis, penasaran. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki ide sesederhana itu. Sayangnya aku tak menemukannya, dan baru kusadari bahwa itu novel terjemahan. Pantas saja, aku tak pernah tahu namanya. Dalam hati sudah kukagumi, kukira penulis pemula atau hanya aku yang tak tahu mengenai dirinya.
Ah, baiklah, lupakan detik-detik memiliki buku itu. Yang jelas, novel ini mengesankan bagiku. Novel ini bercerita tentang seorang anak pada masa konflik umat Muslim dan umat Hindu di India pada tahun 1947. Seorang anak bernama Bilal. Bilal memiliki ayah yang disebut di novel ini Bapuji. Bapuji umurnya tidak lama lagi karena kanker yang menggerogoti. Aktifitasnya hanyalah di rumah beristirahat. Mengetahui ayahnya umurnya tak lama, Bilal ingin ayahnya suatu saat meninggal dengan damai. Dia pun berusaha agar konflik yang terjadi di India saat itu tak sampai ke telinga ayahnya. Ya, karena ayahnya sangat membanggakan Indianya, sementara mereka orang Muslim sedang dikejar untuk dimusnahkan. Maka, dengan beberapa sahabatnya, dia pun merencanakan segala sesuatunya. Dari kebohongan yang mengatakan bahwa India baik-baik saja kepada Bapuji, kebohongan pun merambat untuk yang lainnya.
Persahabatan Bilal dengan Chota, Saleem dan Manjet saat itu begitu erat. Ketiga sahabatnya itulah yang membantu Bilal untuk menjaga rahasia kebohongannya yang ternyata merambat dengan kebohongan yang lain. Tapi, konflik di India rupanya begitu berat bagi anak-anak umur 13 tahun tersebut. Saat semuanya saling membahu, konflik pun tetap tak dapat dibendung.
Novel ini memaparkan tentang persahabatan, makna antara kebohongan dan kebenaran, tentunya tentang cinta seorang anak kepada ayahnya.
Membaca kisah kadang membuatku merinding dan meringis, saat penulisnya memaparkan konflik yang tak berujung. Kadang menggeleng melihat sikap Bilal dan teman-temannya, juga merenung jika ada kalimat per kalimat tentang dusta itu, dan kebenaran yang memahitkan. Terakhir saya menangis, saat Bapuji kemudian menemui ajalnya.
Novel ini saya rekomendasikan teman-teman semua untuk membacanya.

Komentar
Posting Komentar