Parodi Selendang Merah
~Diadaptasi dari cerita Bawang Merah Bawang Putih dan Jaka Tarub~ Buka catatatan, ingat parodi ini. Parodi yang saya buat memenuhi pe-er di salah satu grup saya, PNBB XD. Saya selalu senang menghancurkan alur cerita orang, atau menggabungkan tokoh satu dan tokoh lainnya. xixixixixi..
Pagi ini, seperti biasa Bawang Putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang Putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang Putih tidak menyadari bahwa salah satu selendang baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya, selendang yang hanyut adalah selendang merah kesayangan Bawang Merah. Ketika menyadari hal itu, selendang bawang merah telah hanyut terlalu jauh. Bawang Putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibu tiri dan Bawang Merah.
“Dasar ceroboh!” Ibu tiri malah membentaknya.
“Apa? Itu selendang kesayanganku Bawang Putih!” Bawang Merah pun tak kalah murka. “Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus menemukannya!”
“Jangan berani kembali bila kau tak menemukan selendang kesayangan Bawang Merah!” Ibu tiri pun tak kalah mengancam.
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu dan saudara tirinya tersebut. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang Putih belum juga menemukan selendang Bawang Merah. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu selendang itu tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang Putih melihat seorang pemuda yang sedang berjalan pelan, seperti sedang mengintai sesuatu. Maka, Bawang Putih bertanya pelan: “Wahai pemuda yang baik.”
Sang pemuda tiba-tiba tersentak. “Ssssssttt!” segera dimintanya Bawang Putih untuk tidak ribut. Sesekali pemuda tersebut menerawang ke sebuah telaga yang masih jauh. “Di sana sedang ada banyak wanita mandi. Kalau kau ribut, kita bisa ketahuan mengintip!”
Bawang Putih melongo. Mengintip? Sedikit terkejut dia. Dia tidak merasa ikut mengintip. Rupanya pemuda di depannya adalah pemuda tidak tahu malu. Ah, tapi itu bukan urusan Bawang Putih, yang dia inginkan hanyalah selendang Bawang Merah ketemu.
“Maaf pemuda, tapi saya hanya ingin bertanya sebentar, apakah kau melihat selendang yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang!”
Pemuda itu menatap Bawang Putih sebentar, lalu kemudian kembali menerawang sebuah telaga tersebut, “Aku melihat banyak selendang di sana! Barangkali ada salah satu selendangmu di sana!”
Bawang Putih menatap pemuda cerah. Matanya berbinar,“Benarkah?” tanyanya penuh harap.
“Ayo kita kesana! Tapi ingat, kita harus ke sana diam-diam dan tidak boleh ketahuan!”
Bawang Putih mengangguk. Dia pun mengikuti pemuda tersebut yang mulai melangkahkan kaki mengendap-ngendap sembari sesekali bersembunyi di semak-semak. Bawang putih mengikuti semua apa yang di lakukan pemuda tersebut. Sebentar berjongkok, sebentar berdiri dan mereka pun sampai di sebuah dedaunan dekat telaga.
“Kau tunggu di sini!”
Bawang Putih kembali mengangguk. Pemuda pun pergi sebentar. Betapa terkejutnya Bawang Putih ketika mencoba melihat telaga di balik dedaunan, banyak wanita cantik yang sedang mandi disana. Ada tujuh wanita cantik yang sedang bersenng-senang di telaga itu. Sekilas Bawang Putih ikut terpesona hingga kemudian pemuda datang membawa banyak selendang.
“Yang mana selendangmu?” tanyanya sambil memperlihatkan selendang-selendang. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu, merah muda dan jingga.
Bawang Putih sedikit lupa. Tapi dia yakin yang warna merah itu adalah selendang Bawang Merah. Bawang putih pun mengambil selendang berwarna merah tersebut dan tak lupa berterima kasih kepada pemuda.
“Oh ya, sebelum aku pergi, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Bawang Putih kemudian.
“Namaku Jaka Tarub!” jawab pemuda itu sambil tersenyum sopan.
Bawang Putih melempar senyum. “Terima kasih banyak Jaka Tarub. Namaku Bawang putih!” Sembari di pegangnya selendang itu erat, Bawang Putih pun pamit pulang. Bawang putih meninggalkan Jaka Tarub yang masih mencoba mengintip tujuh wanita tersebut mandi.
***
Bawang Merah asyik berkaca. Hmm, selendang ini kenapa bisa lebih bagus seperti ini? Bawang Merah membatin. Ada yang aneh pada selendangnya. Tapi Bawang Merah kemudian tidak mau mengambil pusing. Dia harus segera pergi ke pesta rakyat dengan selendang merah kesayangannya. Saat sedang asyiknya berdandan, bawang Merah tiba-tiba terkejut. Matanya membelalak tak percaya melihat sesosok gadis dari balik cermin. Di belakangnya muncul seorang gadis jelita sedang menatapnya setengah murka.
“Aaaaaaaaaa……” Bawang Merah berteriak sebentar dan kemudian berbalik, menatap gadis jelita itu. “Hei, siapa kau? Berani sekali masuk rumah orang tanpa izin!”
“Kembalikan selendangku!” gadis itu melotot, menatap Bawang Merah.
Kedua alis Bawang Merah beradu, menatap keanehan tingkah laku gadis di depannya.
“Berani sekali kau! Sejak kapan aku mencuri selendangmu! Siapa kau saja aku tak tahu!”
“Aku Nawang Wulan, seorang bidadari dari khayangan!”
Bawang Merah kembali menatap Nawang Wulan. Dilihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis di depannya memang rupawan, sangat cantik bak bidadari. Ah, tapi ternyata gadis berkulit mulus di depannya memang seorang bidadari. Bawang Merah setengah berpikir. Nawang Wulan? Nama itu jelas taka sing di telinganya.
“Ada urusan apa bidadari kemari?”
“Berapa kali harus kukatakan padamu, bahwa aku butuh selendangku!”
“Hei, selendang apa? Bukannya selendangmu harusnya dicuri Jaka Tarub!”
Bawang Merah ingat, Nawang Wulan memang seorang nama bidadari yang masuk dalam tokoh kisah jaka Tarub. Siapa yang tak tahu kisah dongeng tetangga sebelah itu?
“Kembalikan!”
“Hei Nawang Wulan! Harusnya kau sadar, kau salah datang ke sebuah dongeng. Harusnya sekarang kau mencari Jaka Tarub dan bukan diriku!”
“Sebaiknya tolong kau katakan kepada Bawang Putih kalau dia telah menghancurkan skenario cerita!”
Bawang Putih? Bawang Merah menjerit marah dalam hati. Ah, lagi-lagi Bawang Putih itu ceroboh. Kemarin telah menghanyutkan selendangnya, dan sekarang malah meangambil selendang Nawang Wulan untuk diserahkan kepadanya. Kurang ajar! Sejahat apa pun Bawang Merah, dia tak pernah mau dituduh sebagai pencuri walau memang sering mencuri.
“BAWAAANGGG PUUTTIIIIIHHHHHHHH!!!!!”
Di kejauhan, dekat sungai, Bawang Putih yang sedang mencuci kembali tersentak. Hampir saja ada baju yang hanyut untuk kedua kalinya. Lekas segera dirapikannya cuciannya tersebut. Dapat dirasakannya kemurkaan Bawang Merah yang merambat melalui sepoi angin. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
***
Bawang putih yang malang. Setelah dimarahi ibu tiri dan Bawang Merah, kali ini seorang bidadari ikut menuntutnya. Lagi-lagi karena sebuah selendang.
“Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus mencari Jaka Tarub! Minta dia yang mencuri selendang ini!” Nawang wulan marah dan ikut mengancamnya. “Jangan kembali sampai selendang itu sudah berada di tangan Jaka Tarub! Mengerti?”
Bawang putih mengangguk pilu.
“Aku tak peduli urusanmu dengan Nawang Wulan. Aku hanya ingin selendang asliku kembali!” kali ini Bawang Merah yang menuntutnya. “Jangan kembali sampai selendangku kau temukan. Mengerti?”
Bawang Putih kembali mengangguk. Maka, pergilah Bawang Putih dengan dua tujuan, mencari Jaka Tarub dan kembali mencari selendang Bawang Merah.
***
“Maukah kau menikah denganku dan hidup bersamaku?”
Bawang putih tertegun, disekanya air matanya. Baru saja dia menangis pilu karena sudah putus asa mencari selendang Bawang Merah. Sudah dicarinya ke setiap tepian sungai, tak kunjung juga selendang itu ditemukan. Bahkan Bawang Merah juga tak bertemu nenek yang harusnya ada dalam skenario kisah Bawang Merah dan Bawang Putih. Harusnya dia bertemu nenek, dan tinggal di tempatnya selama seminggu. Setelah itu Bawang Putih akan mendapat labu yang isinya emas melimpah. Itu seharusnya. Tapi kenyatannya dia telah tersesat ke sebuah kisah dongeng Jaka Tarub. Dan sekarang kisah itu tak ubahnya scenario yang tidak dapat diduganya.
“Bagaimana Bawang Putih? Apa kau mau menikah denganku?” Jaka Tarub kembali bertanya padanya.
Bawang Putih menatap Jaka Tarub sedikit ragu. Ditatapnya lamat-lamat pemuda tersebut yang mulai iba kepadanya.
“Tidak usah kau pedulikan Nawang wulan, juga saudara tirimu yang jahat dan tak pemaaf! Kau hidup bersamaku saja. Mari kita tinggal jauh dari mereka!”
“Tapi, kita sudah merusak skenario cerita rakyat!”
“Ah, tidak usah kau pedulikan masalah itu! Sebuah kisah hanyalah permasalahan alur. Cerita rakyat tetaplah cerita rakyat dan cerita kita adalah cerita kita!”
Bawang putih mulai tersenyum. Keraguannya terkikis perlahan. Ada benarnya Jaka Tarub. Itulah batinnya hingga hilanglah sudah kesedihannya. Maka, sejak saat itu Bawang putih mulai hidup bersama Jaka tarub. Mereka pun hidup bahagia. Sementara di rumah Bawang Merah, Nawang wulan tinggal dengan gelisah, menanti kabar. Sayang, Bawang Putih tak kunjung datang. Begitu juga dengan Bawang Merah, dia gelisah menanti selendangnya dan pesta rakyat pun sudah lama usai. Kemana Bawang Putih?
“Ah, jangan-jangan dia dimakan harimau di tengah jalan!” bawang merah menyeletuk.
Nawang wulan pun terdiam, gelisah dan dirundung rasa bersalah jika itu benar-benar terjadi.
~THE END~
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih :
http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/237-Bawang-Merah-dan-Bawang-Putih/#
Cerita Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan:
http://colinawati.blog.uns.ac.id/2010/05/12/joko-tarub-dan-dewi-nawang-wulan/
Pagi ini, seperti biasa Bawang Putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang Putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang Putih tidak menyadari bahwa salah satu selendang baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya, selendang yang hanyut adalah selendang merah kesayangan Bawang Merah. Ketika menyadari hal itu, selendang bawang merah telah hanyut terlalu jauh. Bawang Putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibu tiri dan Bawang Merah.
“Dasar ceroboh!” Ibu tiri malah membentaknya.
“Apa? Itu selendang kesayanganku Bawang Putih!” Bawang Merah pun tak kalah murka. “Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus menemukannya!”
“Jangan berani kembali bila kau tak menemukan selendang kesayangan Bawang Merah!” Ibu tiri pun tak kalah mengancam.
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu dan saudara tirinya tersebut. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang Putih belum juga menemukan selendang Bawang Merah. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu selendang itu tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang Putih melihat seorang pemuda yang sedang berjalan pelan, seperti sedang mengintai sesuatu. Maka, Bawang Putih bertanya pelan: “Wahai pemuda yang baik.”
Sang pemuda tiba-tiba tersentak. “Ssssssttt!” segera dimintanya Bawang Putih untuk tidak ribut. Sesekali pemuda tersebut menerawang ke sebuah telaga yang masih jauh. “Di sana sedang ada banyak wanita mandi. Kalau kau ribut, kita bisa ketahuan mengintip!”
Bawang Putih melongo. Mengintip? Sedikit terkejut dia. Dia tidak merasa ikut mengintip. Rupanya pemuda di depannya adalah pemuda tidak tahu malu. Ah, tapi itu bukan urusan Bawang Putih, yang dia inginkan hanyalah selendang Bawang Merah ketemu.
“Maaf pemuda, tapi saya hanya ingin bertanya sebentar, apakah kau melihat selendang yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang!”
Pemuda itu menatap Bawang Putih sebentar, lalu kemudian kembali menerawang sebuah telaga tersebut, “Aku melihat banyak selendang di sana! Barangkali ada salah satu selendangmu di sana!”
Bawang Putih menatap pemuda cerah. Matanya berbinar,“Benarkah?” tanyanya penuh harap.
“Ayo kita kesana! Tapi ingat, kita harus ke sana diam-diam dan tidak boleh ketahuan!”
Bawang Putih mengangguk. Dia pun mengikuti pemuda tersebut yang mulai melangkahkan kaki mengendap-ngendap sembari sesekali bersembunyi di semak-semak. Bawang putih mengikuti semua apa yang di lakukan pemuda tersebut. Sebentar berjongkok, sebentar berdiri dan mereka pun sampai di sebuah dedaunan dekat telaga.
“Kau tunggu di sini!”
Bawang Putih kembali mengangguk. Pemuda pun pergi sebentar. Betapa terkejutnya Bawang Putih ketika mencoba melihat telaga di balik dedaunan, banyak wanita cantik yang sedang mandi disana. Ada tujuh wanita cantik yang sedang bersenng-senang di telaga itu. Sekilas Bawang Putih ikut terpesona hingga kemudian pemuda datang membawa banyak selendang.
“Yang mana selendangmu?” tanyanya sambil memperlihatkan selendang-selendang. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu, merah muda dan jingga.
Bawang Putih sedikit lupa. Tapi dia yakin yang warna merah itu adalah selendang Bawang Merah. Bawang putih pun mengambil selendang berwarna merah tersebut dan tak lupa berterima kasih kepada pemuda.
“Oh ya, sebelum aku pergi, boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Bawang Putih kemudian.
“Namaku Jaka Tarub!” jawab pemuda itu sambil tersenyum sopan.
Bawang Putih melempar senyum. “Terima kasih banyak Jaka Tarub. Namaku Bawang putih!” Sembari di pegangnya selendang itu erat, Bawang Putih pun pamit pulang. Bawang putih meninggalkan Jaka Tarub yang masih mencoba mengintip tujuh wanita tersebut mandi.
***
Bawang Merah asyik berkaca. Hmm, selendang ini kenapa bisa lebih bagus seperti ini? Bawang Merah membatin. Ada yang aneh pada selendangnya. Tapi Bawang Merah kemudian tidak mau mengambil pusing. Dia harus segera pergi ke pesta rakyat dengan selendang merah kesayangannya. Saat sedang asyiknya berdandan, bawang Merah tiba-tiba terkejut. Matanya membelalak tak percaya melihat sesosok gadis dari balik cermin. Di belakangnya muncul seorang gadis jelita sedang menatapnya setengah murka.
“Aaaaaaaaaa……” Bawang Merah berteriak sebentar dan kemudian berbalik, menatap gadis jelita itu. “Hei, siapa kau? Berani sekali masuk rumah orang tanpa izin!”
“Kembalikan selendangku!” gadis itu melotot, menatap Bawang Merah.
Kedua alis Bawang Merah beradu, menatap keanehan tingkah laku gadis di depannya.
“Berani sekali kau! Sejak kapan aku mencuri selendangmu! Siapa kau saja aku tak tahu!”
“Aku Nawang Wulan, seorang bidadari dari khayangan!”
Bawang Merah kembali menatap Nawang Wulan. Dilihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis di depannya memang rupawan, sangat cantik bak bidadari. Ah, tapi ternyata gadis berkulit mulus di depannya memang seorang bidadari. Bawang Merah setengah berpikir. Nawang Wulan? Nama itu jelas taka sing di telinganya.
“Ada urusan apa bidadari kemari?”
“Berapa kali harus kukatakan padamu, bahwa aku butuh selendangku!”
“Hei, selendang apa? Bukannya selendangmu harusnya dicuri Jaka Tarub!”
Bawang Merah ingat, Nawang Wulan memang seorang nama bidadari yang masuk dalam tokoh kisah jaka Tarub. Siapa yang tak tahu kisah dongeng tetangga sebelah itu?
“Kembalikan!”
“Hei Nawang Wulan! Harusnya kau sadar, kau salah datang ke sebuah dongeng. Harusnya sekarang kau mencari Jaka Tarub dan bukan diriku!”
“Sebaiknya tolong kau katakan kepada Bawang Putih kalau dia telah menghancurkan skenario cerita!”
Bawang Putih? Bawang Merah menjerit marah dalam hati. Ah, lagi-lagi Bawang Putih itu ceroboh. Kemarin telah menghanyutkan selendangnya, dan sekarang malah meangambil selendang Nawang Wulan untuk diserahkan kepadanya. Kurang ajar! Sejahat apa pun Bawang Merah, dia tak pernah mau dituduh sebagai pencuri walau memang sering mencuri.
“BAWAAANGGG PUUTTIIIIIHHHHHHHH!!!!!”
Di kejauhan, dekat sungai, Bawang Putih yang sedang mencuci kembali tersentak. Hampir saja ada baju yang hanyut untuk kedua kalinya. Lekas segera dirapikannya cuciannya tersebut. Dapat dirasakannya kemurkaan Bawang Merah yang merambat melalui sepoi angin. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
***
Bawang putih yang malang. Setelah dimarahi ibu tiri dan Bawang Merah, kali ini seorang bidadari ikut menuntutnya. Lagi-lagi karena sebuah selendang.
“Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus mencari Jaka Tarub! Minta dia yang mencuri selendang ini!” Nawang wulan marah dan ikut mengancamnya. “Jangan kembali sampai selendang itu sudah berada di tangan Jaka Tarub! Mengerti?”
Bawang putih mengangguk pilu.
“Aku tak peduli urusanmu dengan Nawang Wulan. Aku hanya ingin selendang asliku kembali!” kali ini Bawang Merah yang menuntutnya. “Jangan kembali sampai selendangku kau temukan. Mengerti?”
Bawang Putih kembali mengangguk. Maka, pergilah Bawang Putih dengan dua tujuan, mencari Jaka Tarub dan kembali mencari selendang Bawang Merah.
***
“Maukah kau menikah denganku dan hidup bersamaku?”
Bawang putih tertegun, disekanya air matanya. Baru saja dia menangis pilu karena sudah putus asa mencari selendang Bawang Merah. Sudah dicarinya ke setiap tepian sungai, tak kunjung juga selendang itu ditemukan. Bahkan Bawang Merah juga tak bertemu nenek yang harusnya ada dalam skenario kisah Bawang Merah dan Bawang Putih. Harusnya dia bertemu nenek, dan tinggal di tempatnya selama seminggu. Setelah itu Bawang Putih akan mendapat labu yang isinya emas melimpah. Itu seharusnya. Tapi kenyatannya dia telah tersesat ke sebuah kisah dongeng Jaka Tarub. Dan sekarang kisah itu tak ubahnya scenario yang tidak dapat diduganya.
“Bagaimana Bawang Putih? Apa kau mau menikah denganku?” Jaka Tarub kembali bertanya padanya.
Bawang Putih menatap Jaka Tarub sedikit ragu. Ditatapnya lamat-lamat pemuda tersebut yang mulai iba kepadanya.
“Tidak usah kau pedulikan Nawang wulan, juga saudara tirimu yang jahat dan tak pemaaf! Kau hidup bersamaku saja. Mari kita tinggal jauh dari mereka!”
“Tapi, kita sudah merusak skenario cerita rakyat!”
“Ah, tidak usah kau pedulikan masalah itu! Sebuah kisah hanyalah permasalahan alur. Cerita rakyat tetaplah cerita rakyat dan cerita kita adalah cerita kita!”
Bawang putih mulai tersenyum. Keraguannya terkikis perlahan. Ada benarnya Jaka Tarub. Itulah batinnya hingga hilanglah sudah kesedihannya. Maka, sejak saat itu Bawang putih mulai hidup bersama Jaka tarub. Mereka pun hidup bahagia. Sementara di rumah Bawang Merah, Nawang wulan tinggal dengan gelisah, menanti kabar. Sayang, Bawang Putih tak kunjung datang. Begitu juga dengan Bawang Merah, dia gelisah menanti selendangnya dan pesta rakyat pun sudah lama usai. Kemana Bawang Putih?
“Ah, jangan-jangan dia dimakan harimau di tengah jalan!” bawang merah menyeletuk.
Nawang wulan pun terdiam, gelisah dan dirundung rasa bersalah jika itu benar-benar terjadi.
~THE END~
Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih :
http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/237-Bawang-Merah-dan-Bawang-Putih/#
Cerita Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan:
http://colinawati.blog.uns.ac.id/2010/05/12/joko-tarub-dan-dewi-nawang-wulan/
Komentar
Posting Komentar