My First Proofreader
Tadi malam tiba-tiba ayah muncul
dalam mimpiku. Bukan muncul berbentuk wujud ayah, namun dalam bentuk benak di
hati. Aku sedang mimpi merindukannya yang kemudian berlanjut pada alam sadar. Ya.
Saat aku menulis tulisan ini, aku sangat merindukannya.
Ayah, anakmu ini berhasil
merampungkan satu novel lagi. Ingin sekali kukabarkan itu, karena rasanya hanya
dirimulah yang begitu peduli pada duniaku itu. Engkau ayah, yang dulu memuji
tulisanku, saat aku justru malu memperlihatkan satu cerpenku. Lalu, dalam
berjalannya waktu engkau memberiku kejutan sebuah laptop toshiba, Padahal aku
sama sekali tidak memintanya. Engkau ayah yang kudengar membanggakanku, bahwa aku berbakat menulis.
Aku tidak ingin beranda-andai,
tapi rasanya akan sangat menyenangkan jika Ayah masih ada. Barangkali aku bisa
merajut mimpi denganmu, seperti pada mimpi kita dulu. Memiliki supermarket,
toko buku dan toko alat pancing. Bukankah akan lebih membahagiakan jika suatu
saat aku dan ayah memiliki satu buku dongeng. Ya, karena ayah sangat berbakat
mendongeng. Barangkali ayah tidak menyadari hal itu. Dan buku itu nanti akan berada
di antara buku yang kita jual.
Tapi ayah, rasanya sekarang terasa
sulit saat justru kakak tidak begitu peduli dengan duniaku itu. Semakin lama,
pola pikirku semakin berbeda dengan mereka. Itu membuatku benar-benar sendiri.
Dan sekarang aku jadi sangat rindu padamu. Merindukanmu yang setiap hari selalu
ceria penuh semangat, juga suka sekali mencari tantangan. Rasanya dari
sosokmulah aku banyak tumbuh belajar. Rasanya dulu saat masih bersamamu itu
terasa amat menyenangkan. Ayahlah yang mengenalkanku apa itu tantangan dan begitu
menyenangkannya petualangan. Ayah yang mengirimku ke kota asing hingga sampailah
kakiku berpijak di tanah pulau seberang.
“Biar mandiri!”
Itulah alasanmu saat orang lain
terheran-heran mengapa engkau tega sekali mengirim anak jauh dari peraduan
bahkan saat usianya masih belum genap 13 tahun. Tapi terima kasih ayah. Terima
kasih sudah mengajariku hidup mandiri, mengajariku untuk selalu melihat dunia
lain di luar sana.
Dan di saat aku mulai lelah dengan
duniaku ini, aku hanya bisa mengingatmu ayah, mengingat bahwa ayahlah yang
paling mendukung duniaku itu. Aku telah menyelesaikan satu novel dengan seorang
teman. Kami mencoba mengirimkannya pada lomba. Aku tak tahu apakah naskah itu
berjodoh atau tidak. Dan sekarang aku akan mebuat cerita yang baru. Aku tak
akan berhenti pada duniaku ini. Walaupun rasanya sedih saat tidak ada
kata-kata dukungan dari kakak. Aku akan terus mengejar cita-citaku ayah,
menjadi penulis novel produktif. Dan ketika aku mulai jenuh, aku akan mengandalkan
kenanganku padamu. Mengingat senyummu, pujianmu maupun kritikmu dulu pada salah
satu cerpenku.
Tidak ada yang tahu, bahwa
sebenarnya ayahlah orang pertama yang menjadi proof readerku. Aku mencintaimu
ayah dan selalu mencintaimu.
mana novelnya kak... mau bca dong.. :D
BalasHapus