Aku Nggak Akan Rindu
“DIIIAAAAAAAM!” Elida berteriak, memecahkan suasana hening siang kala itu. Wajah gadis kelas 5 SD itu terilihat merengut. Matanya menatap tajam ke arah kakaknya yang sedang memasang kuda-kuda pertahanan. Siti, kakak kandung yang berjarak 8 tahun darinya itu tampak menahan tawa melihat wajah adiknya yang menggemaskan.
“Aku serius,” ucap kak Siti sembari melirik ke arah belakang Elida. “Itu, disitu!” tunjuknya.
Wajah Elida pias. Disitu, di belakangnya? Apa iya? Bulu kuduknya berdiri menghantarkan rindingan ke seluruh tubuh.
“Ada...,” kak Siti memasang wajah takut, “Han... Han...,” kak Siti menahan diri sejenak.
Elida tampak pucat. Hantu?
“DIAAAAAM!!!!” Dia pun berlari menyerang kakaknya, mendorongnya ke belakang. Kak Siti menahan tawa sembari menahan dorongan adiknya. Tampak rambut berkepang dua Elida bergoyang-goyang di kepala.
“Han, Han..” namun kak Siti tak peduli dan terus berkata "Han" berkali-kali.“Aaaaaaaaa!” Elida berontak.Kak Siti memasang wajah takutnya, namun kemudian ekspresi itu berubah tanpa rasa bersalah, “Handuuk!” katanya kemudian sembari berlenggang pergi.Mulut Elida manyun. Wajahnya berubah sebal, “Kak Siti jelek!” tampak ditahannya air matanya yang hendak mengalir. Berkali-kali napasnya terdengar tak teratur menahan amarah. Elida menatap kakaknya kesal. Namun Kak Siti justru nampak terpingkal-pingkal menahan tawa. Setelahnya dia pun mengulurkan lidah, “Week!”Melihat kakaknya yang mengejeknya, darahnya naik ke ubun-ubun. Tak perlu waktu lama, Elida segera mengejar kakaknya berusaha mendorongnya. Sadar akan diserang, kak Siti lekas berlari. Rumah pun menjadi gaduh. Kak Siti lari ke arah dapur, lalu masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Kecewa tak mendapatkan kakaknya, Elida berteriak marah.“SITI JELEK! SANA KAMU PERGI! DASAR JELEK! SANA PERGI! JANGAN BALIK KE RUMAH!”
Ibu yang lagi memasak di dapur tampak menggeleng-geleng oleh keributan dua anaknya.
“Hei Elida, jangan begitu! Kakaknya kok dibilang jelek. Sekarang aja kakaknya diusir-usir. Nanti kalau kakaknya pergi dicariin. Itu kakakmu mau kuliah ke Makassar. Baik-baik sama dia, nanti malah kangen.”
Elida terkejut ditegur ibu. Namun teguran itu bukan membuat panas hatinya reda, melainkan bertambah kesal. Kata siapa anak bungsu paling disayang? Nyatanya setiap dia bertengkar dengan kakaknya selalu dia yang ditegur. Padahal kakaknya itu yang menakutinya duluan.
“Kak Siti jahat! Masa dibilangnya ada hantu!” Elida membela diri. Mulutnya tampak monyong menahan sesak rongga dadanya.
“Gitu aja dipercaya. Hantu kok ditakutin!”
Elida melengos dalam hati, disalahan lagi. Uh.
“Dua hari lagi Mama mau antar kakakmu kuliah ke Makassar,” Mama menyeletuk.
Elida tak menanggapi. Panas hatinya belum reda karena dikerjain kakaknya. Tapi berita dari ibunya itu sedikit meredakan sakit hatinya. Mama mau pergi sama kak Siti? Itu bagus, pikirnya. Elida masih tampak kesal, dia pun berjalan sambil menghentakkan kakinya tanda marah sembari menuju ruang tengah. Mama yang melihat putrinya masih kesal itu pun kemudian ganti menasehati kak Siti.
“Siti, berhentilah gangguin adikmu itu!”
Samar-samar Elida mendengar ibu menegur kakaknya. Hatinya sedikit puas.
***
Elida tampak rapi sehabis mandi. Kali ini dia tidak terlambat bangun karena sebelumnya didahului perang dengan kakaknya. Elida yang sulit bangun berkali-kali dibangunkan ayah. Sayangnya anak itu tak berkutik hanya dengan sahutan suara. Akhirnya kak Siti pun melakukan aksi dengan memencet-mencet hidungnya. Saat itulah Elida mulai terganggu dan lekas bangun sembari marah-marah.
Elida siap di meja makan. Wajahnya yang sehabis mandi tampak terlihat belum mandi akibat rengutan yang masih dipertahankannya.
“Kak siti jelek. Kapan sih kamu ke Makassar? Lekas-lekas sana ke Makassar, jangan balik kesini!”
Ayah yang masih setia dengan dzikir paginya tampak tak terganggu dengan ulah anak bungsunya itu.
“Mulai lagi!” Ibu tampak menegur sembari menaroh telor ceplok di piring.
Kak Siti menatap adiknya dengan mata menggoda, “Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
Elida mencibir, “Nggak sudi!”
“Hayo, masih aja dua anak ini. Ayo Elida itu ikannya dimakan!”
Elida menatap ikan laut goreng yang tergeletak di piring. Wajahnya memandang tak suka. Segera dia menutup mulutnya, “Nggak mau! Telor aja!”
Ayah yang tampak selesai dengan dzikir pagi-petangnya itu segera mengambil piring untuknya lalu menaruh satu ikan di piring Elida, “Ayo ikannya dimakan. Makan ikan itu nanti cerdas otaknya.”
“Nggak mau!” Elida mengembalikan ikan, lalu menggantinya dengan telor ceplok.
“Si anaknya Ahong itu makan ikan 2 ons seharinya. Coba kamu liat dia juara terus di kelas!”
Elida tak menanggapi. Nyatanya Elida tak pernah rangking satu. Mungkinkag karena ia tak suka makan ikan. Elida malas memedulikannya. Dia melahap telornya yang cuman kuningnya saja. Selain ikan, Elida juga tak suka putih telor ceplok.
“Lho, itu putihnya juga dimakan! Hayo, habiskan!” Ibu mjulai protes.
****
Melepas kepergian ibu dan kakak ke Makassar itu membuat hatinya cukup senang. Kembali ke rumah, Elida nampak ceria. Yes, nggak ada ibu yang ngomel dan nggak ada kakaknya yang suka menjahilinya. Itu adalah masa yang paling menyenangkan di dunia bagi Elida. Setelah ini tak ada yang menakutinya soal hantu dan tak akan ada yang menyuruhnya makan ikan. Namun rupanya kebahagian yang dirasakannya di awal hanya prasangkanya belaka karena besok paginya Elida menganga di meja makan.
“Ayo makan!” kata ayah.
Elida menatap makanan yang tersedia di mejanya. Sebuah panci berisi mie yang direbus bersamaan dengan telor. Hanya itu makanannya? Ya Tuhan, dia baru sadar kalau ayahnya tak pandai memasak seperti ibunya. Terpaksa Elida tetap melahap makanannya. Walaupun dia suka makan mie, tapi kalau keseringan dia pun bosan. Setelah melahap makanannya, Elida pergi ke sekolah yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya. Namun hatinya tak biasanya bertanya. Apa yang akan dimakannya lagi bersama ayah?
****
Ibu akan di Makassar selama 17 hari bersama kak Siti. Tiba-tiba berita itu sedikit menyuramkan hatinya. Hatinya semakin suram saat melihat cucian di mesin cuci menumpuk. Siapa yang akan mencucikan seragamnya? Entah ada bisikan darimana. Elida yang tidak pernah mencuci kecuali mencuci kaos kakinya itu pun tergerk untuk menggunakan mesin cuci.
Ibu pergi selama 17 hari. Itu artinya dia akan hidup hanya bersama ayah saja selama 17 hari. Tidak ada masakan ibunya, tidak ada yang menyuruh-nyuruhnya cuci piring namun juga tidak ada yang mencucikan bajunya. Hidup saat itu terasa susah bagi Elida. Tapi dia juga senang karena tidak ada yang akan memarahinya kalau dia tidak menyapu rumah maupun teras. Beruntunglah kakak pertamanya, kak Inna yang kerja diluar kota pulang setiap hari Jumat dan kembali lagi Senin paginya. Tapi lagi-lagi dia harus mendengar omelan histeris kakaknya saat pulang melihat rumah seperti kapal pecah.
“Ya ampun.....”
Elida nyengir. Dapur tampak lebih rusuh dari rumah lainnya. Baju kotor bertumpuk di mesin cuci. Piring dan gelas kotor juga panci yang digunakan memasak mie tampak bertengger di tempat cuci piring.
“Ini lantai juga berdebu. Pasti nggak pernah disapu,” kak Inna mendelik ke arah Elida yang lagi-lagi hanya nyegir. Kak Inna tampak menghembuskan napas.
Elida lega kakaknya tiba. Kini ia bisa bermain dengan tenang, “Kak, aku ada latian gerak jalan. Pergi dulu! Dadah!”
Elida melambaikan tangan dan segera melesat pergi ke luar rumah. Pandangan kak Inna menyapu seluruh ruangan. Dia harus kerja ekstra kali ini.
***
“SITI JELEK! SANA KAMU PERGI! DASAR JELEK! SANA PERGI! JANGAN BALIK KE RUMAH!”
Kata-kata itu terngiang di benak Elida. Dilihatnya sekeliling rumah. Tiba-tiba rumah terasa sepi.
“Hei Elida, jangan begitu! Kakaknya kok dibilang jelek. Sekarang aja kakaknya diusir-usir. Nanti kalau kakaknya pergi dicariin. Itu kakakmu mau kuliah ke Makassar. Baik-baik sama dia, nanti malah kangen.”
Kini kata-kata ibu kini beralih menggerogoti kepalanya. Tiba-tiab hatinya berubah sendu. Elida merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Dilangit-langit itu wajah kak Siti tergambar sembari menatapnya usil.
“Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
Elida mengambil bantal dan menutup kepalanya. Bagaimana ini? Elida tak mengerti mengapa hatinya berubah pilu. Kakanya itu jahat, kenapa dia justru merindukannya? Elida geleng-geleng kepala berusaha mengusir kerinduannya.
Sayup-sayup suara ayah menembus telinga Elida, “Elidaaa... ini Mama telpon!”
Elida tersentak di kamar. Segera ditepisnya bantal dan membangunkan diri. Mama? Kak Siti? Gadis kecil itu pun keluar kamar, lekas menuju ruang tengah. Disana ayah sudah siap menyerahkan gagang telpon. Dengan semangat, Elida menyambar gagang telepon itu.
“Mamaaaaaaaaa!” teriakannya pun membahana.
Elida membuncahkan rasa rindunya sembari mencari kakaknya.
“Kak Siti mana Ma?” tanyanya bersemangat, sudah lupa dengan ucapannya terdahulu.
“Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
“NGGAK SUDI!”
“Aku serius,” ucap kak Siti sembari melirik ke arah belakang Elida. “Itu, disitu!” tunjuknya.
Wajah Elida pias. Disitu, di belakangnya? Apa iya? Bulu kuduknya berdiri menghantarkan rindingan ke seluruh tubuh.
“Ada...,” kak Siti memasang wajah takut, “Han... Han...,” kak Siti menahan diri sejenak.
Elida tampak pucat. Hantu?
“DIAAAAAM!!!!” Dia pun berlari menyerang kakaknya, mendorongnya ke belakang. Kak Siti menahan tawa sembari menahan dorongan adiknya. Tampak rambut berkepang dua Elida bergoyang-goyang di kepala.
“Han, Han..” namun kak Siti tak peduli dan terus berkata "Han" berkali-kali.“Aaaaaaaaa!” Elida berontak.Kak Siti memasang wajah takutnya, namun kemudian ekspresi itu berubah tanpa rasa bersalah, “Handuuk!” katanya kemudian sembari berlenggang pergi.Mulut Elida manyun. Wajahnya berubah sebal, “Kak Siti jelek!” tampak ditahannya air matanya yang hendak mengalir. Berkali-kali napasnya terdengar tak teratur menahan amarah. Elida menatap kakaknya kesal. Namun Kak Siti justru nampak terpingkal-pingkal menahan tawa. Setelahnya dia pun mengulurkan lidah, “Week!”Melihat kakaknya yang mengejeknya, darahnya naik ke ubun-ubun. Tak perlu waktu lama, Elida segera mengejar kakaknya berusaha mendorongnya. Sadar akan diserang, kak Siti lekas berlari. Rumah pun menjadi gaduh. Kak Siti lari ke arah dapur, lalu masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Kecewa tak mendapatkan kakaknya, Elida berteriak marah.“SITI JELEK! SANA KAMU PERGI! DASAR JELEK! SANA PERGI! JANGAN BALIK KE RUMAH!”
Ibu yang lagi memasak di dapur tampak menggeleng-geleng oleh keributan dua anaknya.
“Hei Elida, jangan begitu! Kakaknya kok dibilang jelek. Sekarang aja kakaknya diusir-usir. Nanti kalau kakaknya pergi dicariin. Itu kakakmu mau kuliah ke Makassar. Baik-baik sama dia, nanti malah kangen.”
Elida terkejut ditegur ibu. Namun teguran itu bukan membuat panas hatinya reda, melainkan bertambah kesal. Kata siapa anak bungsu paling disayang? Nyatanya setiap dia bertengkar dengan kakaknya selalu dia yang ditegur. Padahal kakaknya itu yang menakutinya duluan.
“Kak Siti jahat! Masa dibilangnya ada hantu!” Elida membela diri. Mulutnya tampak monyong menahan sesak rongga dadanya.
“Gitu aja dipercaya. Hantu kok ditakutin!”
Elida melengos dalam hati, disalahan lagi. Uh.
“Dua hari lagi Mama mau antar kakakmu kuliah ke Makassar,” Mama menyeletuk.
Elida tak menanggapi. Panas hatinya belum reda karena dikerjain kakaknya. Tapi berita dari ibunya itu sedikit meredakan sakit hatinya. Mama mau pergi sama kak Siti? Itu bagus, pikirnya. Elida masih tampak kesal, dia pun berjalan sambil menghentakkan kakinya tanda marah sembari menuju ruang tengah. Mama yang melihat putrinya masih kesal itu pun kemudian ganti menasehati kak Siti.
“Siti, berhentilah gangguin adikmu itu!”
Samar-samar Elida mendengar ibu menegur kakaknya. Hatinya sedikit puas.
***
Elida tampak rapi sehabis mandi. Kali ini dia tidak terlambat bangun karena sebelumnya didahului perang dengan kakaknya. Elida yang sulit bangun berkali-kali dibangunkan ayah. Sayangnya anak itu tak berkutik hanya dengan sahutan suara. Akhirnya kak Siti pun melakukan aksi dengan memencet-mencet hidungnya. Saat itulah Elida mulai terganggu dan lekas bangun sembari marah-marah.
Elida siap di meja makan. Wajahnya yang sehabis mandi tampak terlihat belum mandi akibat rengutan yang masih dipertahankannya.
“Kak siti jelek. Kapan sih kamu ke Makassar? Lekas-lekas sana ke Makassar, jangan balik kesini!”
Ayah yang masih setia dengan dzikir paginya tampak tak terganggu dengan ulah anak bungsunya itu.
“Mulai lagi!” Ibu tampak menegur sembari menaroh telor ceplok di piring.
Kak Siti menatap adiknya dengan mata menggoda, “Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
Elida mencibir, “Nggak sudi!”
“Hayo, masih aja dua anak ini. Ayo Elida itu ikannya dimakan!”
Elida menatap ikan laut goreng yang tergeletak di piring. Wajahnya memandang tak suka. Segera dia menutup mulutnya, “Nggak mau! Telor aja!”
Ayah yang tampak selesai dengan dzikir pagi-petangnya itu segera mengambil piring untuknya lalu menaruh satu ikan di piring Elida, “Ayo ikannya dimakan. Makan ikan itu nanti cerdas otaknya.”
“Nggak mau!” Elida mengembalikan ikan, lalu menggantinya dengan telor ceplok.
“Si anaknya Ahong itu makan ikan 2 ons seharinya. Coba kamu liat dia juara terus di kelas!”
Elida tak menanggapi. Nyatanya Elida tak pernah rangking satu. Mungkinkag karena ia tak suka makan ikan. Elida malas memedulikannya. Dia melahap telornya yang cuman kuningnya saja. Selain ikan, Elida juga tak suka putih telor ceplok.
“Lho, itu putihnya juga dimakan! Hayo, habiskan!” Ibu mjulai protes.
****
Melepas kepergian ibu dan kakak ke Makassar itu membuat hatinya cukup senang. Kembali ke rumah, Elida nampak ceria. Yes, nggak ada ibu yang ngomel dan nggak ada kakaknya yang suka menjahilinya. Itu adalah masa yang paling menyenangkan di dunia bagi Elida. Setelah ini tak ada yang menakutinya soal hantu dan tak akan ada yang menyuruhnya makan ikan. Namun rupanya kebahagian yang dirasakannya di awal hanya prasangkanya belaka karena besok paginya Elida menganga di meja makan.
“Ayo makan!” kata ayah.
Elida menatap makanan yang tersedia di mejanya. Sebuah panci berisi mie yang direbus bersamaan dengan telor. Hanya itu makanannya? Ya Tuhan, dia baru sadar kalau ayahnya tak pandai memasak seperti ibunya. Terpaksa Elida tetap melahap makanannya. Walaupun dia suka makan mie, tapi kalau keseringan dia pun bosan. Setelah melahap makanannya, Elida pergi ke sekolah yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya. Namun hatinya tak biasanya bertanya. Apa yang akan dimakannya lagi bersama ayah?
****
Ibu akan di Makassar selama 17 hari bersama kak Siti. Tiba-tiba berita itu sedikit menyuramkan hatinya. Hatinya semakin suram saat melihat cucian di mesin cuci menumpuk. Siapa yang akan mencucikan seragamnya? Entah ada bisikan darimana. Elida yang tidak pernah mencuci kecuali mencuci kaos kakinya itu pun tergerk untuk menggunakan mesin cuci.
Ibu pergi selama 17 hari. Itu artinya dia akan hidup hanya bersama ayah saja selama 17 hari. Tidak ada masakan ibunya, tidak ada yang menyuruh-nyuruhnya cuci piring namun juga tidak ada yang mencucikan bajunya. Hidup saat itu terasa susah bagi Elida. Tapi dia juga senang karena tidak ada yang akan memarahinya kalau dia tidak menyapu rumah maupun teras. Beruntunglah kakak pertamanya, kak Inna yang kerja diluar kota pulang setiap hari Jumat dan kembali lagi Senin paginya. Tapi lagi-lagi dia harus mendengar omelan histeris kakaknya saat pulang melihat rumah seperti kapal pecah.
“Ya ampun.....”
Elida nyengir. Dapur tampak lebih rusuh dari rumah lainnya. Baju kotor bertumpuk di mesin cuci. Piring dan gelas kotor juga panci yang digunakan memasak mie tampak bertengger di tempat cuci piring.
“Ini lantai juga berdebu. Pasti nggak pernah disapu,” kak Inna mendelik ke arah Elida yang lagi-lagi hanya nyegir. Kak Inna tampak menghembuskan napas.
Elida lega kakaknya tiba. Kini ia bisa bermain dengan tenang, “Kak, aku ada latian gerak jalan. Pergi dulu! Dadah!”
Elida melambaikan tangan dan segera melesat pergi ke luar rumah. Pandangan kak Inna menyapu seluruh ruangan. Dia harus kerja ekstra kali ini.
***
“SITI JELEK! SANA KAMU PERGI! DASAR JELEK! SANA PERGI! JANGAN BALIK KE RUMAH!”
Kata-kata itu terngiang di benak Elida. Dilihatnya sekeliling rumah. Tiba-tiba rumah terasa sepi.
“Hei Elida, jangan begitu! Kakaknya kok dibilang jelek. Sekarang aja kakaknya diusir-usir. Nanti kalau kakaknya pergi dicariin. Itu kakakmu mau kuliah ke Makassar. Baik-baik sama dia, nanti malah kangen.”
Kini kata-kata ibu kini beralih menggerogoti kepalanya. Tiba-tiab hatinya berubah sendu. Elida merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Dilangit-langit itu wajah kak Siti tergambar sembari menatapnya usil.
“Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
Elida mengambil bantal dan menutup kepalanya. Bagaimana ini? Elida tak mengerti mengapa hatinya berubah pilu. Kakanya itu jahat, kenapa dia justru merindukannya? Elida geleng-geleng kepala berusaha mengusir kerinduannya.
Sayup-sayup suara ayah menembus telinga Elida, “Elidaaa... ini Mama telpon!”
Elida tersentak di kamar. Segera ditepisnya bantal dan membangunkan diri. Mama? Kak Siti? Gadis kecil itu pun keluar kamar, lekas menuju ruang tengah. Disana ayah sudah siap menyerahkan gagang telpon. Dengan semangat, Elida menyambar gagang telepon itu.
“Mamaaaaaaaaa!” teriakannya pun membahana.
Elida membuncahkan rasa rindunya sembari mencari kakaknya.
“Kak Siti mana Ma?” tanyanya bersemangat, sudah lupa dengan ucapannya terdahulu.
“Awas kamu. Nanti kalau aku sudah pergi bakalan kangen lho.”
“NGGAK SUDI!”
Komentar
Posting Komentar