Dari Sinarnya Elang sampai Terornya Bang Jay
Hari minggu kemarin saya ikut bootcamps. Acara yang promosinya dilakukan saat saya mengikuti seminar gebyar wirausaha. Saya juga baru tahu ternyata ketua panitia gebyar wirausaha itu teman saya di FLP Malang. Awalnya saya ikut karena teman menawarkan beli tiket secara kolektif. Hal itu agar lebih murah. Sebelum ikut, jelas saya harus tahu acara apa itu. Lalu saya lihat posternya. Di poster ada photonya Elang Gumilang, yang menurut saya paling cakep diantara yang lainnya. Itu jelas, karena terlihat masih muda. Huahahaha... Tapi photonya benar-benar bersinar. Akhirnya saya cari tahu siapakah itu Elang Gumilang. Dan waw, saya takjub dengan perjuangannya. Perjuangannya yang disertai dengan cakepnya. Wkwkwkwkw. Dan saya juga heran kenapa saya tidak cari tahu 3 orang lainnya lagi. Rupanya Elang gumilang sudah cukup membuat hati saya tertarik untuk ikut serta.
Sebenarnya dulu saya tidak tertarik dengan wirausaha, tidak tertarik dengan bisnis. Orang tua saya menekankan saya untuk sekolah saja, tak pernah mengajari wirausaha. Padahal ibu saya pedagang, ayah saya walaupun PNS juga punya sambilan berdagang. Bahkan dulu saya sering menemani bedagang. Yah, walaupun hanya sekedar mengambilkan uang kembalian doang sih. Saya tidak pernah berani berinteraksi dengan pembeli. Jika ibu saya berdagang pakaian, ayah saya berdagang alat pancing. Semua itu dimulai dari hobi ayah saya yang suka memancing. Walaupun semua itu hilang dan lenyap saat beliau mulai sibuk menjadi kepala kandepag di kabupaten. Beliau jadi sibuk ngikuti bupati yang juga sibuk. And the last, walau itu tak pernah diungkapkan, saya jadi tersihir untuk mengikuti jejak beliau dan kakak-kakak saya menjadi PNS. Tapi Ketertarikan pada bisnis pun kemudian muncul saat dulu pembina FLP Malang mengajak saya belajar internet marketing. Lambat laun, karena saya jadi punya banyak teman yang tertarik dengan bisnis, akhirnya bertambah juga ketertarikan itu.
Publikasi acara gebyar usaha itu jauh hari sekali, sehingga saat hari H hati menjadi goyah. Saya jadi malas ikutan. Pasalnya saya ada acara dengan teman-teman statistika. Jarang-jarang kebersamaan nginap bersama, curhat statistika bersama dan masak bersama. Saya berusaha mencari orang yang mau tiket saya. Tapi tiba-tiba saya blank untuk menentukan siapa yang bisa diberi tiket itu. Akhirnya daripada tiket itu mubazir, saya melangkahkan kaki untuk pamit pada teman saya demi melihat si Elang Gumilang.
Sampai di tempat acara, rupanya teman saya yang pegang tiket memiliki 2 tiket gratis lagi. Saya ambil aja satu. Entah kenapa saat itu barulah muncul di benak saya wajah yang bisa ditawarkan tiket itu. Takdirlah yang kemudian membuat teman saya bernama Ida Mahmudah menemani saya ikut seminar. Dia salah satu teman saya yang saya ajak merencanakan book cafe. Semoga seminar ini membuat kami tetap semangat berusaha mewujudkan mimpi kami.
Saya sudah sampai di tempat acara. Saya tidak mungkin menawarkan tiket gratis itu kepada teman-teman statistika saya yang lagi bersenang-senang. Saat menunggu teman saya yang bawa tiket, saya melihat banyak orang berjas disana. Wuiih, kok kelihatan keren ya. Ah, tapi saya lebih penasaran sama yang namanya Elang Gumilang. Teman saya satunya juga belum datang. Waktu acara dimulai, Ida Mahmudah juga belum datang, hingga saya sms dia berkali-kali. “Hei, cepetan.. si Elang Gumilang sudah mau ngisi”. Dia juga tak boleh melewatkan pengusaha bersinar satu itu. Hohoho.. apa-apan ini@.@.
Tapi saudara-saudara, tiba-tiba saya menjadi kecewa saat Elang Gumilang maju ke podium. Lho? Kok beda sama yang di poster? Wah.. tipuan kamera ini. Di photo lebih bersinar. Tapi hati nurani berkata, di photokan dia masih muda. Sekarang udah mulai tua. Apalagi perjalanannya yang penuh liku itu pasti membuatnya tambah tua. Tapi walau lebih tua, kharisma pengusahanya belum luntur. Saya tetap salut dengan mas Elang Gumilang. Salut dengan perjuangannya. Jadi, ketika kamu kagum dengan seorang pengusaha, janganlah melihat kesuksesannya yang sekarang. Kamu harus mencari tahu bagaimana perjalanan berlikunya hingga menjadi hebat seperti sekarang. Perjalanannya yang berdarah-darah kayak pejuang sedang perang.
Waktu itu mas Elang Gumilang memberikan materi tentang perjuangannya, fokus pada masalah riba. Soal pinjam meminjam duit yang sempat membuatnya terpuruk. Kalau boleh jujur, ada teknik public speaking mas Elang Gumilang yang sedikit mengganggu saya. Ah, tapi itu mungkin karena saya yang lagi belajar public speaking sehingga jadi suka memperhatikan bagaimana orang bicara di depan umum. Barangkali sebagian orang menyadari, sebagian lagi tidak hingga akhirnya saya jadi lupa materinya gara-gara sibuk merhatiin mas Elang Gumilang yang suka sekali bilang, “Maaf, mohon maaf sebelumnya, mohon maaf sebelumnya, mungkin, mohon maaf sebelumnya.” Benar-benar sopan mas satu ini. Gara-gara memperhatikan itu saya jadi lupa apa tadi tentang riba-riba@.@. Yaelah... saat kau memperhatikan orang bicara, ada beberapa fokus yang bisa jadi perhatianmu, tinggal kamu pilih mau memperhatikan bagian yang mana. Wew wew wew. Bagi yang mau tahu lebih lanjut tentang Elang Gumilang, googling sendiri ya. Atau klik ini salah satu ulasan sedikit tentang beliau.
http://www.indonesiaberprestasi.web.id/kisah-motivasi/penjual-donat-keliling-jadi-ceo/
Selesai mas Elang Gumilang, berlanjut dengan munculnya mbak Dewi Tanjung. Mbak Dewi Tanjung ini merupakan pemilik De Tanjung. Beliau memulai bisnis dari kerajinan daur ulang. Saat mbk Dewi maju ke podium, suasananya jadi sangat beda dengan mas Elang Gumilang yang sebelumnya menyampaikan materi dengan santai alias serius. Mbak Dewi Tanjung ini ceria sekali dan sangat lincah. Selain itu beliau sangat..... jujur sekali. Jujur sekali seperti celetukannya tiap saat, “Maaf ya saya terlalu jujur.” Hal ini membuat saya sesekali tepok jidat. Bahkan mbak Dewi Tanjung jujur sekali bahwa bajunya saat itu adalah baju baru yang diberi temannya untuk mengisi acara kala itu. Memang unik pemateri satu ini. Bahasa inggrisnya waw sekali. Keahlian itu pasti dimilikinya mengingat beliau pernah diundang ke luar negeri. Jujur saya lebih suka mendengar mbk Dewi Tanjung dengan bahasa inggris ketimbang bahasa Indonesia atau sekalian beliau pakai bahasa jawa saja. Hehehe. Dibawah ini sedikit ulasan tentang mbk Dewi Tanjung. Beliau asli orang Malang lho, dari singosari.
http://www.ciputraentrepreneurship.com/entrepreneur/nasional/wanita/13444-dewi-tanjung-tekun-mencetak-uang-dari-sampah.html
Nah, yang berikutnya adalah pak Ridwan Arifin. Beliau ini adalah salah satu pendiri Emas Corp yang merupakan pembuat event gebyar wirausaha kala itu. Waktu itu sekalian launcingnya Emas Corp. Saat beliau maju, saya lebih ingin berkata pak Ridwan cocok buat jadi motivator wirausaha. Kalau sebelumnya saya mendapatkan materi tentang perjuangan mas Elang dan mbak Dewi Tanjung, itu membuat saya berdecak kagum. Sebenarnya tebersit keinginan seperti mereka sampai akhirnya muncul pak Ridwan, yang membuat semangat bertambah untuk wirausaha. Sayangnya waktu itu saya lagi kelapaaran. Jadinya saya lupa pak Ridwan menyampaikan apa saja. Yang jelas saya ingat beliau juga menceritakan perjalanannya. Tapi kemudian saya bertemu kembali pak Ridwan di bootcamps. Cerita itu nanti saja. Bagi yang pernah nyobain batagor jepang takshimura, itu bisnisnya pak Ridwan. Untuk tahu pak Ridwan, bisa check disini:
http://wirausahamandiri.co.id/sukses-10-Ridwan%20Abadi%20:%20Sukses%20Batagor%20Bandung%20ala%20Jepang.html
Selanjutnya adalah sesi terakhir, disi oleh bang Jay teroris. Nah, yang satu ini adalah klimaks dari acara itu. Keren juga seminarnya. Awal-awal kita disuguhi mas Elang Gumilang yang adem tapi cukup serius, dilanjutkan mbk Dewi Tanjung yang ceria, lalu berikutnya pak Ridwan yang penuh semangat memotivasi. And the last, digemparkan oleh bang Jay yang benar-benar Teroris. Gilee.. saya sampai menyesal mengapa saya terlambat untuk kembali ke tempat setelah sholat Dzuhur.
Pada sesi ini saya gemasnya minta ampun. Rasanya setiap menjawab pertanyaan bang Jay yang benar-benar teroris ini, kejebak mulu. Selalu saja ada bom di dalamnya. Pikiran kita diputar-putar dan setiap kata yang keluar dari mulutnya kocak. Bang Jay pintar membuat presepsi berputar-putar. Ahlinya ngerjain orang nih bang Jay. Pemateri satu ini senangnya main lempar sana-sini hadiah nggak peduli siapa yang mendapatkannya. Pokoknya beliau lemparkan saja beberapa barang ke penonton sambil berkata, “Ambil tuh, rezeki tahu!” saya sampai berdecak kenapa tuh barang nggak nyangkutnya ke bangku saya aja sih.
Dan hingga pada sesi bang Jay melempar beberapa koin yang entah besarnya berapa. Jelasnya yang namanya koin itu tidak akan sampai lima ribu dan sepuluh ribu.
“Ambil tuh, rezeki. Tadi waktu saya perjalanan ke Malang, di pesawat saya membatin. Siapa yang mendapatkan koin itu akan saya ganti dengan uang lima puluh ribu!”
Waaah... semua pun berdecak termasuk saya. Ahahaha. Kenapa nggak saya aja sih yang dapat tuh koin, lumayankan diganti lima puluh ribu. Tapi namanya juga bukan rezeki. Dari sini saya sudah bisa menduga bahwa bang Jay pintar sekali memainkan presepsi orang. Dan tak lama kemudian, beliau kembali dengan memamerkan lima buku.
“Siapa yang mau ini silakan maju ke depan!”
Dan... semua orang pun langsung maju ke depan. Tubuh bang Jay semakin tidak kelihatan karena ditutupi para peserta yang seperti orang rebutan sembako. Barangkali jika orang tidak tahu, mereka akan mengira bang Jay sedang digebukin. Sementara saya malas untuk maju ke depan. Bang Jay tentu adalah orang yang penuh kejutan. Kita tak akan pernah bisa menebak jalan pikirnya. Jadi daripada kejebak lagi seperti pada butir-butir pertanyaan di sildenya, saya diam saja di tempat. Saya juga bukan orang yang suka rebutan. Seru juga memerhatikan mereka yang pada berebut buku hingga lima orang berhasil membawa buku itu, dan banyak orang kemudian berdiri di sekitar bang Jay dengan lemas dan kecewa. Saat mereka ingin kembali ke bangku masing-masing, bang Jay pun menahan.
"Sebentar, jangan kembali dulu. Lihatlah para peserta di belakang kalian!" ucapnya dan para peserta pun sontak memerhatikan kami yang masih duduk-duduk santai. "Lihatlah mereka yang duduk di sana, mereka adalah orang yang mengalami kekalahan! Kalah dalam bertindak!"
Saya yang saat itu duduk santai sedikit tidak terima. Tapi biarlah. Namun tiba-tiba hal mengejutkan kembali terjadi. Bang Jay tiba-tiba bersuara lantang lagi saat para peserta ingin kembali.
“Sebentar, sebentar,” katanya kemudian. “Banyak sekali yang menginginkan buku ini. Siapa yang berhasil mendapatkan buku tadi, mohon segera dikembalikan!” ucapnya.
Nah kan? Nah lho? Saya berdecak dalam hati tapi masih tidak bisa menebak apa maunya pemateri satu itu.
“Karena banyak yang mau buku ini, saya tidak suka jika rebutan. Jadi saya harus seleksi dong yang berhak mendapatkan buku saya!” ujarnya.
Semua pun menunggu, kira-kira seperti apa seleksi yang diberikan bang Jay.
“Jadi, siapa yang berani menyerahkan uang seratus ribu untuk buku ini, dialah yang berhak memilikinya!”
Glodak.... semua pun riuh. Barangkali juga akan menduga, taruhan berani uang seratus ribu mungkin awalnya saja. Nanti akan dikembalikan lalu diganti dengan sesuatu. Itu pikiran saya awalnya. Dan ternyata dari para peserta yang rebutan, ada yang mau memberikan uang seratus ribu. Usainya, bang Jay dengan santainya mengipas-ngipas uang tersebut sambil berkata,
“Mudahkan? 5 menit sudah dapat 500.000!”
Ya ampun, saya aja sampai gemas lihat gaya beliau yang pamer. Beliau pun lalu memperlihatkan sebuah silde dengan kesimpulan.
Jadi, satu-satunya acara adalah dengan BERDAGANG. (sorry, gue lupa slide sebelumnya apa. Yang jelas sebuah filosofi).
Entahlah, saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang menyerahkan uang 50 ribu itu. Yang jelas bang Jay bilang bahwa uang itulah yang akan menggantikan uang-uang koin yang sebelumnya didapat para peserta. Nah lho? Enak bener. Beliau pun kembali berceloteh.
“Bagi yang merasa tertipu hari ini, silakan maju. Tidak masalah. Saya hanya menyerahkan buku saya kepada yang ikhlas untuk membelinya dengan harga seratus ribu!”
Hening, sepi. Dan hebatnya tidak ada peserta yang maju kembali, mengakui bahwa dirinya merasa tertipu. Barangkali itu akan memalukan. Bayangkan saja, kamu kembali ke bang Jay dan berkata, "Merasa merasa tertipu! saya nggak jadi beli!" dan itu di hadapan ratusan peserta. Kalau saya jadi mereka, saya jelas merasa tertipu. Apalagi ditambah dengan penjelasan bang Jay kembali,
“Saya tidak mau berdagang dengan cara menipu. Sejujurnya buku itu bisa didapatkan di gramedia dengan harga 40.000!”
Hening, sepi. Masih tidak ada yang mengembalikan, kecuali kembalinya riuhan para peserta. Nyahaha... saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Asyik juga pemateri satu ini. Tapi saya yakin para peserta yang menyerahkan uang seratus ribu galau dan merasa... sesaaaak di dada.
Dan itulah akhir dari sesi seminar gebyar wirausaha yang digemparkan oleh bang Jay yang benar-benar teroris. Saya masih ingat penampilan beliau yang unik. Baju warna oranye menyala, seperti bajunya para mandor apa pemadam kebarakan ya? Entahlah.
Seminar kali itu membuat saya semakin menyadari bahwa kesuksesan memang perlu diperjuangkan. Kita harus rela melewati banyak lika-liku dan siap akan resiko yang ada. Namun, sadarilah bahwa di setiap masalah selalu ada jalan keluarnya. Saat kau sukses, syukur adalah hal utama dalam setiap perjalanan. Kreatiflah dan berangkatlah dari sebuah kepedulian. Nyonyonyo.. gara-gara nulisnya baru sekarang, lupa deh saya sama materi yang diberikan tanggal 7 itu. Untungnya ada Ida mahmudah yang rajin nyatat poin-poinnya. Ntar nyontek ah buat sesi tulisan selanjutnya. Biar bisa berbagi. Katanya sih kalau mau bahagia itu kuncinya juga berbagi.
Hidup enterpreneur deh...
Komentar
Posting Komentar