Judul di Ujung Skripsi


Seandainya boleh adu kreativitas pada skripsi. Waktu dijilid, boleh desain cover. Terus pake ilustrator,  layout semenarik mungkin. Tinjauan pustaka boleh kasih gambar penulis-penulisnya sekalian. Pasti seru. Tapi lupakanlah soal itu. Dulu aku suka sekali bertanya pada kakak tingkat, “Sampai mana skripsinya? Kapan Mbak/Mas seminar?” Aku kira itu pertanyaan basa basi yang bisa mengembalikan keakraban. Aku kira itu adalah bentuk perhatian. Nyatanya tidak. Kukira setelahnya akan mendapat tanda senyuman, lalu ucapan terima kasih atas perhatian. Rupanya  mereka malah pasang tampang seram, tanda gemas atas pertanyaan barusan.  Hampir saja telinga ini dijewer mereka semua, membuat gurat tanda tanya pada wajahku dan tanda kesal pada wajah mereka. Jelas aku bingung, mengapa mereka bisa segemas itu. Padahal pertanyaan itu cukup simpel dengan jawaban yang pastinya juga simpel. Hingga sampailah kujajaki semester akhir, merasakan masa seperti yang mereka rasakan. Oh, barulah kutahu jawaban dari pertanyaan “mengapa” itu.

“Mbak kapan seminar?”

Rupanya pertanyaan itu seperti teror tak berkesudahan. Tanpa ampun terus menyerang. Kali ini akulah yang menahan hati jika ada yang bertanya seperti itu. Bukan apa-apa, ternyata cukup bingung untuk menjawabnya. Kapan? Sejatinya aku pun belum tahu kapan bab 1 2 3 itu selesai. Setelah selesai pun, aku masih tak bisa memprediksi kapan kata seminar itu muncul. Mengingat satu butir dan dua butir mahasiswa sudah selesai, makin galaulah hati. Desakan demi desakan muncul, masalahnya skripsi bukanlah seperti tugas kuliah biasa, yang tentu banyak pengarahan di dalamnya. Maka, kujawablah,

“Aduuuh,” reaksi mengeluh tentu menjadi spontanitas yang utama, “Nggak tahulah.” jawabku, berharap sang penanya memahami perasaan si mahasiswa tingkat akhir. Namun sayangnya, penanya belum cukup puas dengan jawaban yang diberikan. Oh, ternyata tanggapannya justru bikin hati tambah merana.

“Lho? Kok nggak tahu Mbak?”

Hooaaaa... ini anak tidak tahu betapa ide judul skripsi itu berminggu-minggu mencarinya. Anak ini tidak tahu betapa dosen juga manusia yang jam terbangnya tentu lebih tinggi dari mahasiswa. Anak ini tidak tahu betapa mencari luang dosen tak semudah dibayangkan. Anak ini pun jelas tidak tahu penyakit mahasiswa tingkat akhir itu ada 3, yaitu:

1. Malas

2. Malas


3. Malas 

Ya. Malas. Dulu aku juga tak habis pikir mengapa sebagian mahasiswa seringkali skripsinya molor. Bukankah skripsi hanyalah sebuah tulisan penelitian biasa yang tentunya 2 bulan pun bisa selesai. Rupanya ada satu penyakit yang sulit sekali dibunuh, yaitu malas. Saat kau tak tahu mengarahkan kemana alur skripsimu, saat itulah hati patah arang. Sudah tak betah lagi pikiran maupun tangan menyentuhnya. Tapi aku tak akan menyalahkan malas. Karena sebuah malas memang tak bisa disalahkan. Dia hanyalah sesuatu yang tentunya muncul karena sebab. Tidak ada orang malas, aku mempercayainya. Barangkali hanya karena si mahasiswa kehilangan motivasi. Dan sialnya, si mahasiswa tak berusaha mencari motivasi, secuil hal yang mungkin bisa membangkitkan semangat menyelesaikan skripsinya.

Aku pun tak pernah bersangka, rupanya masa skripsi adalah masa yang justru banyak cerita. Disinilah dipertemukannya karakter dosen dengan mahasiswa . Tak jarang terjadi aksi-aksi unik antarmahasiswa, bahkan peristiwa kejar-kejaran layaknya detektif demi mencari dosen tercinta. Setiap mahasiswa punya cerita, kesulitan di bagian manapun itu berada. Ada yang karena materinya terlalu sulit, ada yang karena datanya yang sulit, ada yang karena pustakanya yang sulit, ada yang karena tentunya dosennya yang sulit, dan barangkali utamanya mahasiswalah yang mempersulit semuanya.

“Mol, kamu kok nekat sih ngerjain sampai bab 3? Belum konsultasi!”

Aku meresapi kata-kata temanku tersebut. Iya, mungkin aku termasuk mahasiswa nekat. Sudah berderet-deret temanku bolak-balik ke dosennya, konsultasi mengenai judul. Tapi aku, secuil pun belum menghampiri dosen pembimbing kedua. Pembimbing pertama pun baru kutemui kali pertama, lalu kali kedua. Itu pun bersama teman-teman untuk mendengar petuah, bukan konsultasi judul. Selebihnya aku fokus pada diriku sendiri, meraba-raba pemikiran dosen pertama dan kedua, mencoba mencari celah judul yang bisa dibimbing keduanya. Beginilah nasib mahasiswa skripsi yang memiliki dua dosen pembimbing, berusaha menyatukan dua kepala.

“Semoga saja judulku diterima!”

Hanya itu saja yang bisa kuucapkan. Pasalnya, dosen pembimbing pertama tidak begitu repot mengenai judul. Beliau memberi kebebasan pada mahasiswa, mencari judul yang mereka suka. Inilah yang membuatku kemudian menjadi lega. Sejujurnya, dulu dosen pembimbing keduakulah yang kuharapkan menjadi dosen pembimbing pertama. Tapi sekarang aku bersyukur mendapati beliau menajadi dosen pertamaku.

“Walaupun pembimbing kedua, judulmu bisa sajalah lho ditolak! Seperti mas xx, judulnya ditolak!”

Sederet perkataan temanku kembali membuai, tepatnya membuat aku menjadi was-was. Tapi, aku hanya mencerna sebuah kata “konsultasi”. Apa yang harus kukonsultasikan jika aku tak mengerti apa yang kukonsultasikan? Apa yang harus kukonsultasikan jika aku pun tak siap dengan pertanyaan untuk menjelaskan hal yang kukonsultasikan? Itulah sebabnya aku mengikuti kata dosen pembimbing pertama, menyelesaikan seluruh tulisan terlebih dahulu. 

“Gimana kalau skripsimu ditolak? Padahal sudah capek-capek ngerjain!”

“Yasudah, ulang!” jawabku santai yang sebenarnya begitu berat mengatakannya. Mengulang? Itu hal yang cukup gila. Pontang-panting kukerjakan skripsi, berhari-hari aku begadang walau besok paginya balas dendam. Kuputar otakku, berusaha memahami materi, kulangkahkan kakiku melanglang buana, demi mencari pustaka. Dan kemudian ditolak? Oh, tentu akan serasa runtuh seluruh duniaku. Selanjutnya aku harus mengulang penderitaan serupa, mencari judul dan memahami materi kembali.

“Heee??” temenku hanya bisa menjerit tak percaya, atau lebih tepatnya prihatin sekali jika itu terjadi.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat judul skripsi itu ditolak? Melalui penelusuran investigasku kepada beberapa mahasiswa, juga melihat secara live bagaimana dosen belum menyetujui sebuah judul skripsi. Ada beberapa alasan mengapa ditolak.

1. Mahasiswa tidak bisa menjelaskan alur penelitiannya sehingga dosen menjadi ragu dengannya.
2. Penelitian yang dilakukan sudah pernah dilakukan
3. Mahasiswa tidak bisa menjawab pertanyaan dosen mengenai materi terkait
4. Tidak ada hal baru di dalamnya
5. Mahasiswa terlalu mengambil materi ribet yang dosen sendiri pun tak mengerti akan judulnya

Barangkali itu kesimpulan yang kudapat. Aku sudah terlalu bahagia dengan judul skripsiku. Dalam hati pun tebersit tekad, jika sampai ditolak, aku akan mempertahankan judulku habis-habisan. Bagaimana bisa kau bela judulmu jika kau tidak begitu mengetahui apa yang akan kau teliti? Itulah hal yang sering mengiang di kepalaku. Maka, ketika mau konsultasi, kita harus memahami apa yang akan kita konsultasikan. Hanya itu saja yang tebersit di kepalaku.

Dan inilah petuah dosen pembimbing keduaku mengenai judul,
“Judul itu tidak perlu yang ribet, yang penting ada yang baru!”

Satu hal yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang bimbingan skripsi. Pahamilah dosenmu, dan pahamilah materi skripsimu dengan baik dan benar. Hanya dua itu saja yang harus dipegang. Bagaimana cara memahaminya? Aku rasa kita semua sudah memiliki naluri untuk itu.

SEMANGAT UNTUK MAHASIWA TINGKAT AKHIR. SEMOGA SEGERA LULUS DENGAN NILAI SANGAT MEMUASKAN. SAMPAI JUMPA DI WISUDA NANITI ;).

Oh iya, aku belum menyelesaikan ceritaku. Lalu, bagaimana nasib judul skripsi yang sebenarnya baru kukonsultasikan setelah menyelesaikan 3 bab pertama? Hanya bisa bersyukur pada Tuhan yang begitu baik. Tidak dibiarkanNya aku masuk dalam penderitaan kedua. Judulku diterima setelah sebelumnya adu ngeyel pada dosen pembimbing kedua.

“Apa yang mau kau teliti?”

“Ini Pak, membandingkan metode A dengan B. Sudah ada pada skripsi sebelumnya mengenai penerapan A dan B, tapi belum ada yang membandingkannya!”

Pak Dosen menatapku mengerti, “Oh metode pada data itu, berarti hampir mirip dengan metodenya F,” Pak Dosen menunjuk mbak F yang kebetulan bersamaku di ruang beliau untuk konsultasi.

Mati. Pikirku. Aku tak tahu kalau ternyata ada lagi metode selain dua ini. Kukira hanya dua ini. Ternyata muncul lagi metode baru. Sejak kapan metode itu muncul? Aku gemas memikirkannya karena jika pertanyaan merembet kesana, aku tentu tak tahu.

“Bagaimana kalau membandingkan tiga?”

Kata dosenku kemudian. Aku sangat paham, materiku adalah materi yang berhubungan dengan mata kuliah beliau setiap tahunnya. Tapi tentu aku tak akan membiarkan diriku kembali menderita, mempelajari metode satunya.

“Bagaimana kalau dua saja pak?” negoku kemudian selayaknya penjual dan pembeli yang sedang tawar menawar barang.

“Tiga saja. Tinggal menambahkankan?” kata pak dosen kemudian. Aku memutar otak. Oh bukan, lebih tepatnya berdoa pada Tuhan. Tuhan, luluhkanlah dosenku dengan wajah memelasku.

“Dua aja deh pak!”

 “Apa susahnya lho. Skripsinyakan sudah ada!” kata pak dosen sambil menunjuk mbak F dengan draf skripsinya setelah kompre. “Programnya juga jelas sudah ada!”

“Masalahnya saya sudah mengerjakannya pak,” kataku lagi, kali ini dengan tampang memelas.

“Tinggal menambahkan!”

Aku berpikir, sampai kapan kengeyelanku bisa digunakan. Aku hanya bisa terdiam, dengan tampang tentu saja semi elegan dan semi memelas. Hampir saja ingin kuucapkan, “Pliss paaaaak.. jangan tambahkan penderitaanku!” tapi tentu itu tidak akan kuucapkan demi keelegenan diri.

“Metode B itu bagaimana?” tiba-tiba pak dosen bertanya tentang metode B. Aku yakin pak dosen belum terlalu tahu karena tidak ada di buku dan metode ini adalah baru.

“Hampir mirip algoritmanya dengan C, tapi bla bla bla bla,” aku pun menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi. Kehalian menjelaskan ini tentu saja berkat sudah kuselesaikannya proposal skripsiku.

“Mau menggunakan program apa?”

“Program bla bla bla karena bla bla bla,” lancar kujelaskan karena memang sudah jelas semuanya dalam proposal skripsiku.

And the last,

“Ya sudah, dua aja!”

Alhamdulillah. Jeritku dalam hati. Terima kasih Tuhan atas tidak terjadinya penderitaan kedua. Setelahnya aku harus segera beranjak sebelum pak dosen berubah pikiran.

Komentar

  1. siap... semangat pantang menyerah...

    BalasHapus
  2. malas masih bersmaku kapan akan hilang....blm ada ide judul terlintas dibenakku ya allah...give me power

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bararawa: Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

Parodi Selendang Merah

1001 Books You Must Read Before You DIe (List Tahun 2012)