Arah dan Matahari
Aku harap Tuhan akan mengampuniku. Tidak, aku bukan sedang mengeluh Tuhan. Maaf jika ini pembelaan. Aku hanya ingin mendeskripsikan apa yang kurasakan, seperti halnya kadang kudeskripsikan perasaan senang. Aku harap Tuhan mengampuniku. Tidak, aku bukan sedang mengeluh Tuhan. Tapi kutuliskan ini semata-mata untuk mengungkapkan ketertegunanku, ketersadaranku dan kemengertianku. Aku harap Tuhan akan mengampuniku akan tulisan ini, tapi aku lebih ingin diampuni jika ada ketersalahanku pada ibuku.
Pantaslah hadist ini ada. Hadist yang sudah sering kita dengar, mengenai ibu.
Dari sahabat Abu Hurairah Radiyalhu‘anhu, beliau berkata : Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah, kemudian dia bertanya : "Wahai rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda, ”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, ”kemudian siapa?”. Beliau bersabda, ”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, ”kemudian siapa?”. Beliau bersabda, ”Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim)
Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin menulis seperti ini. Hatiku hanya sedang kembali tergelitik, membaca sebuah postingan di facebook mengenai ibu. Lalu, aku pun ingat novel yang baru saja selesai kubaca. Kisah Pi, yang kemudian mendeskripsikan perasaannya mengenai ayah dan ibunya.
“Kehilangan ayah berarti kau kehilangan nasehat, kehilangan ibu... yah.. seperti kehilangan matahari di atas sana.”
Bagian ini adalah bagian yang paling kuingat, sempat membuatku tertegun beberapa saat. Apa yang dirasakan Pi, persis seperti yang kurasakan. Apa yang dirasakan Pi juga pernah kutuliskan. Tidak adanya ayah di sisi seperti hilang arahan diri. Pi berkata bahwa kehilangan ayah berarti kehilangan nasihat. Sementara nasihat adalah senjata untuk mengarahkan diri. Itulah memang yang kurasakan. Selama ini ayahlah yang seringkali memberikan arahan, mengurusi segala urusan birokrasi, mendaftarkan sekolah, membelikan tiket dan membelikan fasilitas-fasilitas penunjang kehidupan. Saat aku bingung ke mana harus melangkah, ayahlah tempat bertanya. Siapa orang yang mengarahkanku masuk SMP tetentu, dialah ayah. Siapa yang mengarahkanku masuk SMA tertentu, dialah ayah . Siapa yang paling sering berbincang tentang masa depanku? Dialah ayah, dialah arah.
Aku sudah pernah menuliskan, tidak adanya ayah di sisi seperti hilang arahan diri. Akan tetapi, selama kaki masih sanggup berdiri, arah masih bisa dicari. Selama masih kuat melangkah, nasihat dari sumber lain bisa dijamah. Walau itu tak semudah berada dalam selimut ayah.
Saat ayah tidak ada, kesedihan akan hilang arahan tentulah ada. Hilanglah peran ayah yang notabene pemimpin rumah tangga. Mengarahkan istri beserta anak-anak pada jalan yang seharusnya. Dialah ayah, dialah arah. Saat ayah tak ada, kesedihan memang melanda. Tapi matahari masih menerangi, menuntunmu untuk tak berputus asa, karena arah masih bisa dicari, bersama matahari.
Lalu, tibalah saat kehilangan matahari. Pi berkata, kehilangan ibu seperti kehilangan matahari di atas sana. Aku pernah menulis, tak adanya ibu itu seperti hilang kekuatan untuk berdiri. Tak ada matahari, tak adalah energi. Ibu pergi, gelap dunia hanya diisi malam hari. Dan itulah ibu, seorang matahari. Darimana sumber makanmu saat dalam kandungan? Ibu. Berapa lama dia menahan beratmu lewat besar perutnya? 9 bulan. Dan siapa dia? Ibu. Kau tak berdaya saat baru terlahir, siapakah yang merawatmu? Ibu. Siapa yang menyusuimu? Ibu. Siapa yang memberikan hangatnya pelukan saat kau jatuh di waktu kecil? Ibu. Siapa yang lebih sering menggendongmu? Ibu. Lalu, saat kau besar, siapa yang mengisikan bekal makanmu? Ibu. Dan begitulah rasanya kehilangan ibu, seakan hilang matahari, seakan tak ada kekuatan untuk berdiri.
Apa yang dikatakan Pi? Kehilangan ayah kehilangan nasihat. Tapi, saat kehilangan ibu seperti kehilangan matahari di atas sana. Pantaslah Rasulullah meletakkan nama ibu tiga kali untuk diperlakukan dengan baik lalu barulah ayah.
Who should I give my love to?
My respect and my honor to
Who should I pay good mind to?
After Allah
And Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hold you
And clean you and clothes you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That?s right no other
My mother
Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think most of?
After Allah
And Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hear you
Before you could talk
Who used to hold you?
Before you could walk
And when you fell who picked you up
Clean your cut
No one but your mother
My mother
Who should I say why close to?
Listen most to
Never say no to
After Allah
And Rasulullah
Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father
Cause who used to hug you
And buy you new clothes
Calm your head
And blow your nose
And when you cry
Who wiped your tears?
Knows your fears
Who really cares?
My mother
Say Alhamdulillah
Thank you Allah
Thank you Allah
For my mother.
~Your Mother by Yusuf Islam ~
Siapa? Siapa yang menyeka air matamu saat terjatuh? Ibu. Siapa? Siapa yang paling mengerti ketakutanmu? Ibu. Siapa? Siapa yang paling mempedulikanmu? Ibu. Siapa? Siapa yang paling mengkhawatirkan makananmu? Ibu, dialah ibu, dialah matahari. Pantaslah Rasulullah menyebutnya tiga kali untuk pertama kali dihormati.
Cintai matahari, matahari, matahari, lalu arah.
Malang, di malam hari dalam renungan
Komentar
Posting Komentar