Chilhood


“Dasar Maceloda.. Maceloda..!”

“Mestikan, hati-hati!!!”

“Dicari dulu, baru tanya!”

Okey, itu adalah sedikit kata-kata yang bisa kuingat dari ucapan kakak-kakakku sewaktu aku kecil. Maceloda? Ya, mungkin saja ada yang bertanya apa itu maceloda? Beberapa temanku mengatakan bahwa maceloda adalah nama yang lucu, ada juga yang mengatakan  nama ini keren, terlepas bahwa ada yang mengatakannya itu nama alay. Sebenarnya itu adalah sebutan nama dari kakakku untukku yang menurutnya bandel, sulit diatur dan ceroboh.

Kakakku bilang aku “mecal”, ini bahasa banjar yang artinya bandel. Bagaimana tidak? Aku tidak pernah mau disuruh-suruh waktu kecil.  Jika kakak ingin menyuruhku menyapu, atau cuci piring, aku tak pernah mau. Aku akan mengerjakannya, tapi tidak saat perintah suruhannya itu terdengar di telingaku. Jika pun dia ingin meminta bantuan padaku, misalnya membelikannya sesuatu di kios sebelah, aku selalu punya syarat. Kembalian uangnya harus jadi milikku. Dan, itulah aku waktu kecil yang kalau membeli pentol, tidak pernah mau satu, harus dua. 

“Maulida ini, kalau sudah mau sesuatu, selalu tidak bisa tidak!” 

Kadangkala ibu mulai gemas padaku, mengingatkanku yang benar-benar keinginannya tak bisa dibendung. Ya. Jika aku mau sesuatu, itu harus! Bahkan jika aku mau pentol dan pak pentolnya sudah berlalu hampir jauh, akan kukejar sampai bisa membelinya.

“Paaaaakkkkk!” Aku akan berteriak sekerasnya.

Kadang, jika tetanggaku punya barang baru, hatiku tergerak untuk juga memilikinya. Pernah tetanggaku memiliki sandal jepit yang seragam dengan kakaknya. Tiba-tiba aku juga ingin memilikinya padahal itu hanya sandal jepit yang jauh kalah dengan kualitas sendal yang kupunya. Maka aku pun meminta kepada ibu. Jika ibu tidak membelikannya, aku bisa menangis sejadi-jadinya.


“Dicari dulu di buku!”

Kalau ini adalah petuah ayahku saat aku pusing dengan lembar-lembar LKS pelajaran sosial.

“Yah, ibukotanya negara ini apa?” tanyaku sembari membacakan soal ilmu pengethuan sosial tersebut dan ayahku pun menjawabnya tepat.

Itu membuatku lancar menyelesaikan pekerjaan rumah dari guruku yang cantik. Terlena, aku pun terus menanyai ayah yang wawasannya sangat luas, sampai ayah kemudian ikut gemas kepadaku.

“Duh, dicari dulu! Itu di bukunya ada! Dibaca!”

Glek! Dan aku pun tidak mau, terus menanyai ayahku karena aku sangat malas membacanya. 

“Ayah......” 

Jurus selain menangis adalah merengek.

Aku seorang anak bungsu dari 3 bersaudara. Prestasiku saat  SD cukup bagus walaupun aku adalah anak yang cukup manja di mata keluargaku. Namun prestasiku menyusut saat kelas 3 dan 4 SD, kemudian kembali cemerlang saat kelas 5 dan 6 SD. Itu berkat kakakku yang sudah lulus kuliah matematika dan kembali ke rumah. Aku jadi punya seseorang yang bisa diandalkan dalam mengerjakan tugas. Setiap ada tugas, kakakkulah yang selalu bisa kuandalkan untuk membantuku menyelesaikan, hingga setiap di kelas aku selalu menjadi murid yang paling bisa.

Ah, tapi diantara bantuan kakakku, sebenarnya dulu aku cukup licik. Itu terjadi masa kelas 4 SD, saat tugas membuat peta kalimantan membuatku frustasi. Semua orang di rumah sampai kehabisan ide untuk mendorongku menyelesaikannya.

 Aku tidak suka jika pekerjaanku jelek, dan saat itu gambar petaku benar-benar jelek. Aku menangis dan menghentikan pekerjaanku. Aku memutuskan tidur karena kelelahan menangis. Saat itu aku mencoba meminta kakakku menggambarkan, tapi dia tak berkenan. Orang-orang di rumah membujukku agar menyelesaikannya sendiri, tapi aku tetap tidak bisa. Aku lelah dengan air mata rengekan, dan kemudian tertidur. Aku bahkan melupakan ketakutanku akan hari besok, karena aku sudah cukup lelah dengan rengekan dan tangisan.

Keesokan harinya benar-benar membuatku menjerit tak percaya. Di lantai bekas aku frustasi mengerjakan peta, tergeletak kertas gambar berisi peta kalimantan. Mataku menatapnya binar.

“Waaa... petaku!”

Aku berlonjak sangat bahagia. Gambar itu bagus sekali. Dan aku berniat pamer kepada teman-temanku. Rupanya kakakku yang menyelesaikan gambar itu. Dan akhirnya tugas petaku selesai dan itu bukanlah pekerjaanku.

Bagiku masa yang paling membahagiakan adalah masa kecil. Aku tak melarang jika kalian tak setuju dengan pendapatku kali ini. Tapi, mungkin bisa dipikirkan kembali. Masa kecil adalah masa di mana kita tak memiliki beban yang berarti. Seberapa sering kita bertengkar dengan teman-teman kita, saling mengejek atau saling melet, kita adalah orang yang paling bisa memaafkan saat itu. Seberapa sering keinginan kita tak pernah terpenuhi, kita memang menangis, tapi setelahnya kita fine dengan hasil yang ada. Tak ada penyeselan atau kekecewaan yang berkepanjangan.

Sekarang, bandingkan saja dengan kita saat dewasa. Seberapa sering kita tersakiti, kita bisa tersenyum memaafkan, tapi kita sulit untuk melupakan. Mengingatnya, kadangkala hati masih berdenyut, menginformasikan luka yang terpatri. Seberapa sering kita gagal, kekecewaan pun melanda, dan rasa sakit akan jatuh itu sangat terasa. Ketika pemikiran demi pemikiran merasuk jiwa, kita sering menanggung beban akan tak adanya keselarasan. Tapi, memang itula seorang dewasa, dia harus mampu mengambil tanggung jawab penuh terhadap beberapa urusan dunia.

Masa kecil dan masa sekarang. Kadangkala aku berpikir, jika saja bisa, aku ingin terus menjadi anak kecil, merengek dan manja kepada siapa saja. Jika saja bisa, aku ingin terus menjadi anak kecil yang penuh keceriaan, bermain senang dengan siapa saja. Jika saja bisa, aku ingin menjadi anak kecil yang salah tidaknya tak akan dihitung oleh malaikat Raqib dan Atid. Tapi ini adalah hasil pemikiran dewasa yang kurang bisa memahami takdir. Benar, karena waktu berjalan dan semua harus tunduk mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Dan saat itulah kita menyadari akan tujuan dari penciptaan diri, di mana jika mendambakan sesuatu yang pasti, juga harus dengan cara yang sudah digarisi.

Kita memiliki masa kecil yang bisa dikenang, tapi kita juga memiliki masa depaan yang harus digapai.

Komentar

  1. Maceloda.. Maceloda...
    haahaha.. ternyata karena mecal..
    kayaknya panggilan itu masih cocok dengan kau, udah bilang bakal posting 15 post sebulan, tapi diundur terus..

    Tapi khan aku orang dewasa yang beda, jadi kumaafkan kamu..

    Ohh ya, Aku khawatir Masa depan yang kamu bicarakan itu tidak ada, karena faktanya kita selalu bangun pagi dan hidup di hari ini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bararawa: Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

Parodi Selendang Merah

1001 Books You Must Read Before You DIe (List Tahun 2012)