Kabar Dari Kakak - Edisi Mikirin Diri

Kakak Fizah hamil lagi. Oke, sudah menginjak 5 bulan. Alamat dia tidak bisa menghadiri wisudaku nanti. Kakak pertama pun baru melahirkan. Lantas, siapakah yang akan hadir? Phew. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan wisuda. Jika saja kakak-kakakku itu juga biasa saja dengan yang namanya wisuda. Maka aku tidak perlu memikirkannya. Wisuda ini untuk mereka, mereka yang merasa menanggung amanah agar aku segera menyelsaikan S1, menjadi sarjana. Hanya itu saja.
Oke, kakak hamil lagi. Yah, sebenarnya ini berita bahagia. Aku kasihan melihat ponakan si Pipah yang imut itu jadi anak tunggal. Baguslah dia sudah mau memiliki adik. Dari dulu aku tidak pernah bisa membayangkan menjadi anak tunggal. Beruntunglah aku bukan anak tunggal. Jika aku anak tunggal dan orang tuaku kemudian meninggal seperti keadaanku sekarang. Alamak, berteduh kemanalah aku.
Kakak hamil lagi. Yah, sebenarnya ini berita bahagia namun sekaligus penyadaran yang cukup bagiku. Hei, kapan kau mandiri dan tidak menumpang lagi Mol? Bagaimana kalau menelisik umur? 22 september nanti umur kau genap 22 tahun Mol. Huahahaha, ternyata kau sudah tua dan akan memiliki 3 ponakan =.=”. Pasti kau tidak bisa membayangkan akan tinggal di rumah peninggalan ibu sendirian? Kusarankan sebaiknya kau cari teman. Phew. Apa maksudmu? Jangan bertanya lagi karena sekarang aku harus menyadarkanmu untuk segera mencari jodoh. Apa? Kau bilang apa? Jodoh? Iya, jodoh. Tidak, tidak, tidak! Izinkan aku bernapas sejenak dari perihal itu XD (Perang batin).
Oke, aku akui menginjak semester akhir adalah masa-masa di mana pembicaraan jodoh bukanlah hal tabu. Sepertinya memang juga sudah saatnya untuk dibicarakan. Pasalnya seringkali banyak yang bertanya-tanya dan banyak yang menganjur-anjur.
“Sudah semester berapa? Udah punya pacar belom?”
Haaaaa. Kenapa harus tanya pacar sih >,<.
“Yah, kalo nggak punya pacar, minimal ada calon. Jangan kuliah saja, sambil lirik-lirik jangan lupa.”
Oh yeah, lirik-lirik apa? Bukan ngelirik jawaban ujian temankan?
Kadangkala berbicara dengan kakak pun merembet ke arah sana.
"Pokoknya kamu balik ke Banjarmasin. Biar kamu dapat jodoh nggak jauh-jauh. Disini aja!"
Oh.. jadi baru aku tahu kenapa aku tidak diizinkan berlama-lama di Malang. Mereka khawatir aku berjodoh dengan orang jauh =.=". Yaelah. Macam mana pula ini.
"Yah, bolehlah kalau kamu dapet orang sana, tapi syaratnya harus mau dibawa ke Banjarmasin."
Yaelah, beginikah syaratnya. pantas saja dulu *sensor* yang mendekatiku tidak diberi respon baik oleh kakak dikarenakan dia jauh & sangat jauh. Tapi aku pun bersyukur untuk hal itu.
"Kita cuman 3 bersaudara. jangan jauh-jauhlah biar bisa saling mengunjungi"
Wuiih, bisa juga nih kakak so sweet begini.
"Jangan-jangan kamu masih mikirin ***** *******?"
Tiba-tiba pertanyaan itu keluar lagi dari mulut kakak. Aku lantas berontak. "Engggaaaaaaaaak...!" Yaelah, susah-susah aku mengontrol hati, membenahi hati dan berpikir waras. sudah kupertimbangkan matang-matang dan mengambil pelajaran dari masa-masa itu.
"Ya sudah, kau tenang saja. masih banyak kenalan kak Irwan. tuh malah dosen-dosen muda. atau kamu mau sama ponakannya pak ******? Masih ditawarin tuh."
Glek. diingetin lagi sama orang itu. Aku kembali berontak. Dari zaman ibu masih hidup sampai sekarang memang temannya ayah satu itu tak henti-hentinya nawarin ponakannya. Mending nawarin nikah. Ini nawarin pacaran.
"Enggak mau. Masa dibilangin kalau sama aku harus rajin bangun subuh, sholat tepat waktu udah ngeluh. Enggaaaak."
Dan Kakakku satu itu hanya bisa tertawa, "Hahaha... Nanti biar kamulah yang semangatin dia ibadah."
(Melongo). Aku bahkan berharap calon suamiku nanti memiliki bacaan yang sangat bagus biar ademlah waktu sholat berjamaah. Kalau dia diajak sholat tepat waktu aja ngeluh, mau bagaimana? Ah, semoga orang itu diberi hidayah.
Phew. Pertanyaan-pertanyaan di atas dan pembicaraan-pembicaraan di atas itu belum seberapa sebenarnya. Belum begitu menusuk jantungku dibanding pertanyaan dan pernyataan tanteku kali ini.
“Habis lulus mau ngapain Da? Menikah?”
Aku hanya bisa menjawab, “Enggak tahu!”
“Menikah aja. Bagus itu, biar nggak ngerepotin kakak lagi. Jadi, orang-orang sudah nggak khawatir.”
Alamaak... Apa aku merepotkan kakakku? Sebenarnya mereka tidak merasa kerepotan. Kakak pun sepertinya lebih senang aku tinggal di rumahnya. Ya iyalah, biar ada yang bantuin beresin rumah sama nemanin ponakankan kak XD. Tapi harusnya kakak sadar dong atas ketidaknyamananku selama beberapa tahun ini. Di rumah sendiri (eh, sekarang bukan di rumah ibu lagi ding) aku harus berpakaian tertutup saat ada kakak ipar dengan kondisi kalimantan yang lebih banyak panasnya. Jadi aku harus segera mendiami rumah peninggalan dengan konsekuensi sendirian dibaluti banyak kenangan (mengatur napas).
Oke, bukan bermaksud untuk lari dari pertanyaan juga anjuran orang-orang. Tenang, tenang, dari dulu sampai sekarang pun aku memikirkannya, juga mempersiapkan batin untuknya. Tapi izinkan aku menata hatiku ulang sejenak, membersihkannya dari masa lalu yang barangkali masih bersisa. Agar ketika aku bertemu dengan orang yang benar, hatiku sudah bersih (semoga). Terima kasih Tuhan yang telah menyembuhkan hatiku dari goresan lama. 
Menikah itu bukan soal dengan orang yang kita sukai saja, orang yang kita kagumi atau orang yang kita cintai (Ah, pret banget nih dibilang cinta, yang ada cinta semu mah). Tapi lebih dari itu menikah adalah hal yang harus dipikir serius, mencari orang yang tepat dengan waktu yang juga tepat.
Menikah juga bukan hanya soal kamu jatuh cinta, lantas ingin menikah dengannya. Lebih dari itu, ada beberapa rencana yang harus dipikir matang untuk membawa keluargamu seperti apa kelak. Orang yang tepat adalah orang yang dapat berkomukiasa dengan baik bersamamu, yang karakternya melengkapimu, dan yang pemikiran atau visi misi menikahnya tak jauh berbeda denganmu.
Ah iya, ini pembicaraan terakhirku dengan kakak perihal jodoh.
"Gimana? Nanti gampanglah aku sama kakak Imuth carikan."
"Kalo mau cariin harus yang mendukung dunia tulis menulisku."
Kakakku itu pun mencibir. Mengingat dia memang tidak sangat mendukung duniaku itu. 
"Yasudah, aku cari sendiri aja. kalian mah nggak ngedukung dunia tulis menulisku. Nanti dapat orang yang juga nggak ngedukung. Pokoknya aku cari sendiri." Tekadku kemudian.
Tegas kukatakan itu walau aku sendiri bingung. Mencari sendiri? Aih XD.


Tuhan, jika kau ingin menjatuhkan hatiku lagi pada seseorang, jatuhkanlah hatiku kepada orang yang tepat. Aamiin (Doa penutup penuh harap). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bararawa: Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

Parodi Selendang Merah

1001 Books You Must Read Before You DIe (List Tahun 2012)