Bicaralah kan Kudengarkan
Saat ini diriku duduk di kursi yang berada dalam sebuah ruang. Ruang itu bernama ruang MP 1.6. di ruang ini aku mendengarkan *sensor* bicara dengan fokus pada laptopnya, menyampaikan materi yang ada.
Tapi sumpah, beneran aku tak nyambung. Aku tak konsentrasi. Rasanya bosan sekali. Mataku pun mulai menyipit, ngantuk!
Ayo Moli, berpikir, berpikir dan berpikir agar kau tak mengantuk. Ayo Moli, perhatikan, perhatikan, dan perhatikan mata kuliah ini!!!!
Lekaslah waktu berjalan... Aku sudah tak tahan dengan penderitaan ini. Sungguh, aku tak bisa bersabar dalam waktu.
Tadi malam aku membersihkan semua sudut kamarku. Tulisan itu kutemukan di antara lembaran catatan kuliah masa laluku. Melihatnya tawaku membahana, ah tidak menyangka. Bukannya mencatat materi kuliah, malah curhat. Ingatanku pun melayang pada salah satu dosen. Tapi sunggguh, tulisan itu tidak mengada-ada. Saat itu aku benar-benar tersiksa menahan ketidaktertarikanku pada kuliah saat itu. Dosen itu mengoceh dengan mata memandang laptop, suara pelan sayup-sayup sampai di telinga. Ah, tapi kami semua yang ada di sana merasa tidak di ajak bicara. Ya, karena yang di ajak bicara adalah laptop di depannya dengan diri beliau sendiri.
Dosen tersebut berbicara, masih menggunakan bahasa Indonesia. Kami cukup paham per kata. Tapi sayangnya, kami tak tahu makna rangkaian ke seluruhan kata. Rasa kantuk menyerang, hampir seluruh mahasiswa. Tapi beberapa bisa mengatasinya. Yang jelas, aku saat itu justru menulis paragraf di atas. Sedikit berlebihan memang, karena saat itu aku memang berniat untuk mendramatisir semua kedaan.
Ah, itu masa lalu. Tapi, sayangnya kebanyakn dosen ada saja yang masih seperti itu. Oke, aku tak berniat menyalahkan dosen. Cukup mahasiswa yang bersabar, memahami dosen mereka.
Hari ini aku mengikuti sebuah kuliah tamu. Kebetulan tamu tersebut berasal dari luar negeri. Mereka Stewart Andrew (CEO VSNI) dan Donghui Ma (CEO VSNC) yang menurutku cukup manis dan cakep, mirip artis korea. Yang dibicarakan mereka adalah seputar masalah software Genstat, sejarahnya dan seluk-beluk mengenainya. Sebenarnya aku tak mengerti per kata yang mereka ucapkan. Bahasa inggris, salah satu yang sudah tak ku asah. Tapi hari ini aku tidak merasa bosan. Walaupun tak mengerti per kata, paling tidak aku terbantu untuk memahami maknanya secara batin lewat bantuan body language mereka yang oke. Selain itu, ekspresi mereka yang cukup menarik. Yang jelas, mereka tidak duduk di kursi sambil memandang laptop.
Akhir-akhir ini aku memang suka sekali memperhatikan pembicara berbicara di depan umum. Aku selalu memperhatikan bagaimana mereka menyampaikan materi. Ini karena aku sedang belajar public speaking bersama teman-teman FLP Malang. Semenjak belajar, aku jadi tahu bagaimana seharusnya berbicara di depan umum agar audience tidak bosan. Walaupun pada prakteknya memang masih tergolong sulit, perlu pembiasaan. dan bukan berarti semua itu tidak bisa dilatih.
Seringkali saat ujian, kami mahasiswa diberikan lembar kuesioner untuk dosen. Seharusnya di bagian saran kutuliskan agar mereka belajar public speaking dengan baik. Ya, sayangnya waktu itu aku masih belum mengerti apa masalah dosen tersebut hingga terlihat membosankan. Ternyata kuncinya memang pada teknik mereka memberikan perkuliahan.
Tapi lupakan, percuma juga aku menggosipkan mereka di sini. Biarlah kita para mahasiswa bersabar menghadapi mereka yang berbeda-beda. Ada yang penyampaiannya sangat menarik, ada pula yang amat membosankan. Semoga kita yang suatu saat menjadi public speaker tidak melakukan hal yang sama kepada audience. Rasanya dosa besar, kita memaksa mereka mendengarkan kita, padahal kita tak bisa memberikan performa yang terbaik. Bisa dibayangkan? Jangan-jangan mereka menjerit dalam hati seperti yang kujeritkan saat kuliah dosen tersebut.
Lekaslah waktu berjalan... Aku sudah tak tahan dengan penderitaan ini.
Aku tak ingin, sungguh tak ingin menyebabkan hal tersebut pada audience. Bukannya bisa memberi pencerahan, justru semua menjadi sia-sia. Yah, walaupun bisa jadi kita justru menyebabkan mereka berpahala karena telah bersabar mendengarkan kita. Tapi, belajar public speaking rupanya cukup penting. Dan yang terpenting dari public speaking adalah ekspression. Bagaimana kita mengekspresikan apa yang kita punya dengan performa terbaik kita. Intonasi suara, body language yang cukup, ekspresi wajah, penguasaan materi yang bagus, juga penyampaian sistematis akan membantu para audience memahami apa yang kita sampaikan.
Sebenarnya aku belum belajar public speaking sampai teknik, masih sekedar membangun kepercayaan diri saat berbicara di depan umum. Selain itu, melatih intonasi dan ekspresi diri. Selebihnya masih akan dipelajari. Semoga kapan-kapan bisa di share di sini.
Oke, kali ini tulisan cukup sampai di sini. Singkat memang. Semoga kisah ini bisa memberi bisikan kepada kita, agar tergerak untuk mempelajari teknik public speaking yang bagus. Setelah selesai belajar public sepaking, bicaralah kan kudengarkan, semoga tidak membosankan. semoga tak ada yang menjerit, "Lekaslah waktu berjalan... Aku sudah tak tahan dengan penderitaan ini."
Malang, 26 November pukul 18:57, setelah menyelesaikan membaca novel “A Beautiful Lie”
Komentar
Posting Komentar