Kabar Itu... (Catatan untuk Temanku)
Siang itu mataku berat. Setelah mendongeng
untuk keponakan, justru yang tertidur adalah diriku sendiri. Tapi tidur itu tak
berlangsung lama ketika ponselq berdering dan reflek langsung kuterima. Suara teman
disana membangunkanku dan memberiku kabar duka. Setengah sadar, kukumpulkan
nyawa kembali. Dan beberapa saat kemudian barulah aku benar-benar tersadar.
Berita itu membuatku terdiam sejenak, membuka
memoriku pada beberapa hari lalu. Dari mimpi yang seperti sebuah firasat, dari
cerita-ceritanya yang kemudian mengingatkanku pada pengalamanku sendiri. Dia,
teman yang sangat kusayangi. Teman yang biasanya menabahkanku saat aku mulai
menghimpit rindu pada ayah ibuku. Dia, teman yang sangat kusayangi. Teman di
mana tak perlu ikut mellow ketika melihatku datang lalu menitikkan air mata.
Teman yang sudah memaklumiku. Aku hanya perlu datang ke kosnya untuk
menghilangkan rasa sepiku. Teman, yang hanya bisa tertsenyum saat aku mulai mengirim
sms, “Aku ke kosmu, numpang nangis!” Dia teman yang sangat kusayangi, teman
yang tak segan-segan memarahiku saat aku berlaku salah.
Dia, temanku. Jika dia biasanya begitu setia mendengarkan segala curahan
hatiku, perasaanku saat ayah meninggal, masa-masa kecilku bersama ayah dan
kerinduan yang sering datang. Dia begitu setia mendengarkannya. Tapi hari
kemarin, rupanya aku harus mendengar berita serupa dari dirinya. Tuhan,
tabahkanlah dia beserta keluarganya.
Catatan ini kutulis khusus untukmu, wahai
teman. Kau yang sudah menerimaku dengan segala bentuk suka dukaku. Tapi teman,
kutulis catatan ini untukmu semata-mata untuk ikut mengajakmu membuka mata.
Doaku tak putus agar Tuhan memberikanmu pahala kesabaran. Jika memang kau harus
menitikkan air mata, menangislah karena lembutnya hatimu mengingat kasih sayang
ayah. Tapi ada hal yang mungkin setelah ini harus kita sadari. Teman, kematian
itu pasti. Bersyukurlah pada Tuhan yang begitu menyayangi kita. Tuhan
mendekatkan kita untuk selalu mengingat kematian. Sesuatu yang barangkali tidak
semua orang memilikinya. Dengan beradanya ayah di alam sana, semoga justru
mempermudah hubungan kita dalam mengejar kemuliaan akhirat.
Mari teman, barangkali bersama-sama kita
sadari arti kepergian ayah yang begitu meninggalkan pelajaran berarti dari
Tuhan kita Yang Maha Penyayang. Dan kan kuingatkan kembali dirimu Puisi oleh Nur Atik Kasim yang akan menyadarkan kita arti kepergian ayah.
Pada puisi ijinkan aku ayah
Bercerita tentang gerimis yang
Mengiringi kepergianmu
Atau hujan yang membasahi pilar nisanmu
Pohon kamboja mulai meranggas
Meski bunga kecil berteduh di bawang daun-daun kering
Pada puisi aku datang ayah
Pohon kamboja mulai meranggas
Meski bunga kecil berteduh di bawang daun-daun kering
Pada puisi aku datang ayah
Bukan hendak menggugat takdir kematianmu
Atau menghujat sangat pemilik maut
Kali ini ingin aku katakan
Kepergianmu adalah pelajaran tanpa kamus
Perenungan panjang untuk dipahami
Bahwa hidup adalah pembuktian
Tuk wujudkan syukur dan sabar
Ketika harus menjalani skenarioNya
Pada puisi aku akan kembali menemui ayah
Lewat goresan pena
Yang mengajariku tentang arti kematian
Bila esok telah kutemukan
Muara kasihNya tak bertepi
Akan kuceritakan kembali
Sepuluh malam kepergianmu
Dan sepuluh bunga yang masih berteduh
Di bawah pohon-pohon kamboja
Mari menyambut jodoh dengan persiapan. Jodoh yang membawa petualangan dunia ke istirahat kekal.
BalasHapusYupz.. semoga kita dapat menjemputnya dengan persiapan yang baik dan berakhir dengan khusnul Khotimah. Aamiin Ya Rabbal Alamiiin
Hapus