Revie Buku - Kumcer PMLH

Aku sebenarnya tak tahu berapa uang 35 juta itu. Jadi aku pun mengambil uang merah itu perlembar sebanyak 35 kali. Aku berhitung seperti yang diajarkan guruku di sekolah SD.

“Satu,” kataku sambil mengambil selembar uang kertas merah.

Aku hanya tahu bahwa uang merah itu adalah uang seratus ribu. Kurasa 35 kalinya adalah 35 juta.

“Dua,” kataku lagi sambil mengambil selembar lagi uang yang terikat dengan karet tersebut.

“Tiga puluh lima,” akhirnya sampai ke hitungan 35.

Kau tak perlu mencopet. Biar aku saja yang mencopetkan uang ayahku 35 juta ini untukmu.

Penggalan cerita di atas adalah penggalan cerpenku yang berjudul Sepenggal Janji. Cerpen yang kubuat dengan kekuatan The Power Of Kepepet. Cerpen yang ternyata mendapat respon baik teman-teman FLP Malang saat itu. Ya, saat itu cerpen ini di bedah dalam acara Sharing Karya FLP Malang. Saat FLP Malang berniat menerbitkan buku kumpulan cerpen, cerpenku dilirik untuk masuk ke dalamnya walaupun belum pernah dicoba dalam lomba ataupun masuk ke media massa.

Nah, buku berikut ini adalah kumpulan cerpen FLP Malang. Kumasukkan dalam kategori inspiring book, karena di dalamnya ada inspirasi yang bisa kita pelajari. Cerpen-cerpen di dalam buku ini 80% adalah cerpen yang pernah memenangkan lomba atau masuk dalam media massa. Selain menyuguhkan kumpulan cerpen, kelebihan buku ini adalah memaparkan proses keratif dari masing-masing cerpen. Cukup menginspirasi bukan ^^?


Akan kusuguhkan lagi, penggalan cerpenku yang masuk dalam buku ini.


Kau terus menangis dan tak menjawab pertanyaanku. Benarkah kau ingin sekali bertemu ayahmu? Tapi ayahmu sudah mati. Salah satu cara agar kau bisa bertemu dengan ayahmu adalah dengan mati juga.

Aku kemudian diam sambil mendengarkan tangisanmu. Tapi dalam hati aku berjanji akan memenuhi keinginanmu itu teman.

Nah, kalau berikut ini adalah dua paragraf pembukaan cerpennya pak Mashdar Zainal yang berjudul gelar. Cerpen ini syarat akan hikmah tentang gelar-gelar yang kita kejar di dunia.

Menurutku, gelar dan nama adalah dua hal yang tak boleh dicerai-beraikan. Seperti jilbab dan mahkota perempuan, seperti tubuh dan pakaian, sebuah nama akan telanjang tanpa gelar. Itulah mengapa aku sangat mengutuk orang-orang—terutama mahasiswaku—yang luput mencantumkan gelar pada namaku. Sebagai seorang dosen senior, aku telah menerapkan sebuah kebijakan bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahanku.

Ya, aku sudah memikirkannya masak-masak, kalau mahasiswaku melakukan salah satu dari tiga hal, aku tak usah berpikir panjang untuk menghadiahkan nilai C pada mereka, atau kalau lebih buruk lagi, aku tak sungkan-sungkan mendupak mereka untuk mengulang perkuliahan pada semester depan. Memang sebaiknya begitu! 

Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos. Bagaimana kisah selanjutnya dan bagaimana proses kreatifnya? Silakan baca bukunya.







PEREMPUAN MERAH LELAKI HARU
berisi: CERPEN MENANG LOMBA DAN DIMUAT DI MEDIA MASSA, SERTA CERPEN PILIHAN FLP MALANG LENGKAP DENGAN PROSES KREATIF MASING-MASING PENULIS (Setiap cerpen ada proses kreatifnya)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bararawa: Destinasi Wisata Kalsel Nan Eksotis

Parodi Selendang Merah

1001 Books You Must Read Before You DIe (List Tahun 2012)